<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275</id><updated>2012-02-16T19:58:34.090-08:00</updated><category term='indept reporting'/><category term='Ekonomi'/><category term='Profil dan Prestasi'/><category term='Mengintip Yogya'/><category term='Seni dan Budaya'/><category term='Outline Liputan'/><category term='wisata dan kuliner'/><category term='opini'/><category term='pendidikan'/><title type='text'>Portal Kiri</title><subtitle type='html'>Informasi dari kami yang berada di selatan Batas Kota</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-6789236930544140450</id><published>2010-01-11T07:57:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T11:14:07.320-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengintip Yogya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indept reporting'/><title type='text'>PERJALANAN HIDUP TERJAL SIMBOK GENDONG</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Pasar, ketika mendengar kata itu kebanyakan orang akan bergidik jijik dan mungkin saja enggan untuk membahasnya atau bahkan untuk datang dan berbelanja di tempat itu. Sebuah potret globalisasi dimana orang memuja produk instan dan pola hidup hedonis, bahkan cenderung kunsumtif. Mungkin pasar tradisional tak lagi menarik bagi banyak orang. Berdirinya berbagai pusat perbelanjaan yang menawarkan kebersihan dan kemudahan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, membuat pasar tradisional semakin terpinggirkan. Di pasar tradisional ini, suasana yang ada benar-benar terbatas. Jangan harap ada pendingin ruangan, bandrol harga, keranjang belanja, atau bahkan mau lihat-lihat cewek cantik yang menjadi SPG. Bahkan sedikit lantai keramik pun akan sulit ditemukan dalam sebuah pasar tradisional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0tJ-PD0ytI/AAAAAAAAACo/zEEkMc-nyTQ/s1600-h/buruh+gendong+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0tJ-PD0ytI/AAAAAAAAACo/zEEkMc-nyTQ/s320/buruh+gendong+1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Satu hal yang membuat saya kagum kepada simbok gendong, adalah beliau tidak memasang tarif atas jasa memanggul belanjaan kita! Menurut beberapa orang yang pernah belanja , katanya tarif sekali gendong sekitar dua ribu rupiah, yah 2000 rupiah saja sangat tidak sebanding dengan tenaga yang mereka keluarkan. Terlebih lagi jika melihat kebaya usang yang membelit tubuh kurus mereka. Namun tak jarang yang memberikan uang lebih kepada si simbok entah atas dasar apa mereka memberikan uang lebih kepada simbok gendong itu, atas dasar kasihan atau mungkin kemanusiaan.. Berat beban yang dibawa oleh si simbok tadi bisa mencapai lebih dari 50 kilogram. Apabila saya memposisikan diri sebagai beliau, dengan jumlah pendapatan (10 gendongan x Rp&lt;s&gt;,&lt;/s&gt;4.000,-) sebesar Rp 40.000,-. Sudah cukup besar? Tentu saja cukup besar jika dalam sehari saja bisa mendapatkan uang 40.000, tetapi ketika saya pulang dari pekerjaan itu, akan ada uang pijit 30.000, uang makan sebanyak 3x sehari tidak cukup jika hanya 10.000, lalu belum lagi kebutuha yang lain, sangat kecil uang itu bagi kita, tetapi tidak untuk mereka. Bagi mereka jumlah itu sangatlah besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Simbok gendong, merupakan potret kebanyakan warga kelas bawah negeri ini. entah masih berapa banyak profil-profil kerja keras yang ada di sekitar kita, yang berjuang demi sekian rupiah dengan mengorbankan sekian jumlah tenaga dan waktunya. Tak jarang, apa yang dihasilkan masih jauh dari kata cukup. Dimana pemerintah saat ini?? Program-program dibuat untuk memberantas kemiskinan, tapi mana realisasinya bahakan mungkin jumlah kalanag yang kurang seberuntung kta semaikn banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebuah fenomena menarik yang diceritakan Nyonya SUTI (63th), seorang buruh gendong di pasar Beringharjo Jogjakarta, kenapa saya menyebutnya sebagai nyonya, karena saya menganggap bahwa mereka adalah setara dengan kita, sama-sama makluk sempurna yang diciptakan oleh Tuhan, dan tentu saja harus kita hormati juga. “ Wong penggede (pejabat) eling rakyat mung yen ono geleme mas, rene yen mung arep coblosan wae, yen &lt;st1:state _moz-userdefined=""&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined=""&gt;wis&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; kepilih yo &lt;st1:state _moz-userdefined=""&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined=""&gt;wis&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; lali” begitu tuturnya spontan. Sebuah fenomena yang sangat menarik jika kita lihat perebutan kursi kekuasaan oleh para jutawan yang haus kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mungkin sebuah pelajaran bagi para pembesar negeri ini, jika seorang buruh gendong saja dapat mengutarakan hal yang seperti itu. Nyonya SUTI bahakan tak layak dihukum penjara seperti, nek Imah pencuri 3 buah kakao yang dihukum 3 bln penjara, karena ucapannya tadi. Beliau layak mendapatkan perhatian khusus atau bahakan perlakuan khusus seperti pejabat yang jelas-jelas mencuri dan menggunakan uang rakyat yang masih bisa bebas, untuk jalan-jalan keluar negeri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;BURUH GENDONG KAUM BAWAH PEMANGGUL DERITA&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;SEORANG Perempuan lusuh di ujung lorong itu sudah melewati separuh abad lebih menghisap udara di dunia penuh dengan panggung sandiwara ini. Tulang yang sudah semakin renta, dipaksakan untuk tetap berdiri kokoh menyambut semua jatah angkut yang juga akan menetukan banyaknya sisa uang untuk dibawa pulang. Tanggung jawab menjadi cambuk untuknya terus bersemangat walau kadang bebang terlalu berat untuk mereka. Bahkan tak hanya beban berat yang mereka gendong, derita berat yang mereka jalani selama ini tidak sedikitpun berkurang tetapi malah bertambah berat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0tKAB3G69I/AAAAAAAAACw/HWIXd-LNG5w/s1600-h/buruh+gendong+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dari sebuah sumber media cetak bertaraf nasional saya mendapatkan fakta yang cukup mengejutkan.. Penghasilan harian yang dulu pernah saya tulis sebanyak &lt;a href="http://antobilang.wordpress.com/2007/06/29/simbok-gendong/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: windowtext;"&gt;Rp 40.000,-&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; rupanya cukup sulit diperoleh dalam masa sulit seperti sekarang, paling-paling juga hanya separo, itupun jika keberuntungan menggelayuti gendongan si mbok. Kebutuhan hidup yang semakin mencekik membuat para buruh gendong di pasar Beringharjo harus mengubah pola makan. Jika orang kaya mengatur pola makan demi menghindari penyakit, simbok-simbok ini mengatur pola makan demi melanjutkan hidup, yah sebuah kesenjangan yang sangat mencolok. Menu harian yang tadinya berupa nasi sayur dan sepotong &lt;st1:city _moz-userdefined=""&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined=""&gt;tempe&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; atau tahu dihargai Rp 1.500,-. Kini cuma bisa digunakan untuk makan nasi sayur saja, tanpa lauk. Semua itu mereka lakukan karena pendapatan harian masih harus dibagi dengan biaya transportasi kerena kebanyakan dari merka bukan berasal dari kota jogja melainkan dari kota-kota sekitar jogja yaitu Kulon Progo sebagai wakil dari provinsi DIY, dan juga Boyolali, Sukoharjo, Klaten yang ketoganya terletak di Provinsi jawa tengah dan seharipun bisa melahap jumlah Rp 6.000,- dari kantong mereka. Sisanya untuk sekolah anak, dan membiayai keluarga yang menjadi tanggungan mereka serta konsekuensi dari pekerjaan yang mereka ambil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Jika orang bilang negeri kita sedang dalam masa susah, lalu apa kabar dengan setump&lt;st1:country-region _moz-userdefined=""&gt;&lt;st1:place _moz-userdefined=""&gt;uk&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; uang yang ada di berankas orang-orang kaya di negeri ini, mungkin itu juga belum termasuk dengan deposito mereka di bank yang mungkin saja mencapai nominal Milyar, yang bahkan mimpi saja tidak terpikirkan bagi para pekerja buruh gendong ini. Mimik sedih atau bahkan air mata para penguasa negara mungkin hanya sebagian dari skenario parodi yang sedang mereka mainkan. Memang sangat tak bijak bila mengatakan mereka itu sedang ditimpa sial. Tapi apa mau dikata, mereka itu sekali lagi cuma tumbal atas parodi kekuasaan negeri koruptor ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;SEJENAK MENJADI ARTIS&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0tKAB3G69I/AAAAAAAAACw/HWIXd-LNG5w/s1600-h/buruh+gendong+2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0tKAB3G69I/AAAAAAAAACw/HWIXd-LNG5w/s320/buruh+gendong+2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bukan karena lelah bekerja di pasar atau bahakan bosan dengan pekerjaan menggendong mereka. &lt;st1:place _moz-userdefined=""&gt;Para&lt;/st1:place&gt; buruh gendong pada tanggal 11 Desember 2009 lalu sejenak menjadi artis, dalam rangka pembukaan BIENALE X, JOGJA JAMMING. Sebuah acara perhelatan karya seni dari para seniman jogja. Acara yang di buka langsung oleh menteri Kebudayaan dan Periwisata Jero Wacik ini menghadirkan para buruh gendong, sebagai salah satu pengisi acara dalam acara pembukaan tersebut. Mereka menggendong beban seperti pekerjaan mereka. Namun ada yang berbeda disini, setiap karung yang mereka bawa bergambarkan karikatur dari para pembesar, bahkan karikatur dari bapak Jero Wacik juga ada. Wajah sumringah dan tanpa beban menghiasi muka keriput mereka. Sebuah senyum simpul sempat terekam saat mata kamera saya mangarah pada mereka. Mereka??, yah karena jumlah mereka yang ytidak sedikit, ada sekitar sepuluh orang yang berpartisipasi dalam acara tersebut, saya pun tidak tau pasti berpa banyak mereak di bayar, namun senyum penuh harap senantiasa menghiasi wajah mereka. Sejenak saya perhatikan kadang canda juga terlempar diantar mereka yang sedang menunggu giliran untuk tampil di depan menteri. Penuh harap juga terpancar dari seorang buruh, yang entah apa yang mereka pikirakan, mungkin saja yang mereka pikirkan, berapa mereka di bayar untuk acara itu. Namun wajah serius juga terpancar ketika buruh gendong di panggil untuk tampil, bak artis kenamaan ibukota mereka berlenggak-lenggok sama persis dengan skenario yang sudah dibuat oleh panitia. Yah mungkin saja bagi mereka hal itu bukan hanya sebagai bagian dari pekerjaan saja akan tetapi bisa juga menjadi sarana sejenak melaepas beban berat yang menggelayuti mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right; text-indent: 36pt;"&gt;Oleh&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right; text-indent: 36pt;"&gt;G. Agung Bayu Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right; text-indent: 36pt;"&gt;153070021&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-6789236930544140450?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/6789236930544140450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/perjalanan-hidup-terjal-simbok-gendong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6789236930544140450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6789236930544140450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/perjalanan-hidup-terjal-simbok-gendong.html' title='PERJALANAN HIDUP TERJAL SIMBOK GENDONG'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0tJ-PD0ytI/AAAAAAAAACo/zEEkMc-nyTQ/s72-c/buruh+gendong+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-3568845085326606712</id><published>2010-01-11T07:36:00.001-08:00</published><updated>2010-01-11T11:13:12.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indept reporting'/><title type='text'>Ketika Tukang Becak Angkat Bicara</title><content type='html'>&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0twxdCYdBI/AAAAAAAAAC4/SGZFzufxXw8/s1600-h/IMG_9799+k.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0twxdCYdBI/AAAAAAAAAC4/SGZFzufxXw8/s320/IMG_9799+k.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Becak, sebuah kendaraan yang sangat &amp;nbsp;khas di Indonesia, &amp;nbsp;&amp;nbsp;mempunyai 1 roda dibelakang dan 2 roda di muka secara berdampingan. Kendaraan yang bebas polusi ini menggunakan tenaga otot manusia sebagai penggerak utama seperti halnya sebuah sepeda. Kendaraan yang tergolong transportasi itu sempat Berjaya ditahun 60an. Kini keberadaan becak sangatlah berbeda dari pada zaman dahulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Adalah &amp;nbsp;Mbah Rohadi, 70 tahun, adalah seorang warga dusun Bejen Bantul yang ditemui Portalkiri Sabtu (10/1) minggu kemarin pangkalan becaknya yang terletak di perlimaan Bejen Bantul Yogyakarta. Sehari-harinya Rohadi berprofesi &amp;nbsp;sebagai seorang supir becak. Pekerjaan yang ia jalaninya sejak dari tahun 60an itu mempunyai cerita tersendiri bagi kehidupannya. Kini bersama teman-temannnya menempati pangkalan becak Simpang Lima sebagai tempat untuk menunggu seseorang yang ingin memanfaatkan jasa para pengayuh kendaraan roda tiga itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0t0iPYbvWI/AAAAAAAAADw/RydSDgnM9MQ/s1600-h/IMG_9778.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0t0iPYbvWI/AAAAAAAAADw/RydSDgnM9MQ/s320/IMG_9778.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Ditanya perihal seluk beluk becak, Rohadi menjawab, “Becak itu pengoprasiannya mudah kok mas, seperti kita naik sepeda, namun kalu becak dia lebih membutuhkan tenaga yang lebih”. Dipasaran sendiri, becak pun banyak diperjual berlikan, becak dijual seharga mulai dari 1,5 juta sampai dengan harga 2 juta rupiah sesuai dengan bentuk dan variasinya. Berbeda untuk harga becak bekas, untuk harga becak bekas biasanya dihargai sebesar 700 ribu rupiah. Becak Rohadi pun demikian, karena ia tak kuat untuk membeli becak baru, maka ia membeli becak bekas dari temannya seharga 700 ribu rupiah. Untuk perawatan becak itu sendiri, Laki-laki yang sudah berkepala tujuh ini menuturkan ”Perawatannya sama Mas, seperti kita merawat sepeda biasa, namun becak lebih sedikit rumit dibandingkan dengan sepeda yang rodanya cuma dua”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Suka duka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Ditanya seputar suka dukanya sebagai seorang tukang becak, Rohadi menerangkan pada Portalkiri, “Yah sukanya ketika ada orang yang memanfaatkan jasa saya Mas, duka nya ketika becak saya rusak, misalnya rantainya putus, ban nya bocor, sehingga tak bisa mengayuh dan tak dapat duit. Saya sering cari utangan ketika becak saya mengalami hal seperti itu”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Sebelum tahun 2007, sehari-harinya ia mampu mendapatkan upah rata-rata 40ribu rupiah. Namun setelah tahun tersebut kini untuk mendapatkan uang sebesar 20 ribu pun sangatlah sulit. Hal tersebut dikarenakan, sekarang ini sudah banyak warga yang mempunyai motor dan telpon seluler. “Sekarang mas, kalau orang turun disini dari bis jarang yang memakai jasa kami, tapi malah memanfaatkan pangkalan ini untuk bertuduh sambil menunggu jemputan dari sanak saudaranya maupun temannya”, ungkap kakek yang masih mempunyai semangat tinggi dalam hidup itu. “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Jaman saya ketika masih muda dulu Mas, saya pernah mengantar seseorang dari Bantul ke Stasiun Tugu yang ada di Yogya, dan waktu itu saya diberi upah 100 rupiah. Uang sejumlah 100 rupiah itu pada aktu itu masih sangat banyak, berbeda dengan sekarang, yah mungkin sekitar 100an ribu&amp;nbsp; jika pada zaman sekarang”, ungkap Rohadi sembari mengelus-elus becak tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;“Walaupun saya ini tergolong orang yang bodo, namun karena saya giat untuk berolah raga, ya seperti membecak ini, Alhamdulillah saya diberi kesehatan sampai saat ini dari yang Maha Kuasa. Lihatlah diluarsana, para pegawai kantor yang gajinya setinggi langit, namun kerjaannya cuma duduk, dan santai-santai, terkadang malah membawa penyakit buat dirinya sendiri”, tambah Rohadi sambil menghitung penghasilannya hari itu sebesar 17 ribu rupiah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Ketika para tukang becak berbicara politik&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Selain Rohadi, ialah Pak Kardi 45 tahun seorang yang sejak dari bangku kelas 6 SD sudah menjadi seorang tukang becak keliling. Kisahnya tak lain seperti halnya Mbah Rohadi. Kardi juga merupakan tamatan sekolah dasar yang putus sekolah. Tak terasa kini sudah 35 tahun an profesi sebagai tukang becak pangkalan Simpang Lima Bejen ia jalani. “Wah kulo niki sakniki malah ngrasakke mboten tentrem, trentem pas jaman Pak Harto rumiyin”, ungkap Kardi yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan seperti ini, “ Wah , sekarang saya itu merasa tidak tentram, saya merasakan tentram malah ketika jamannya Pak Harto dulu”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0t0AQpFvTI/AAAAAAAAADg/wg0ilZ8w0I8/s1600-h/IMG_9783.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0t0AQpFvTI/AAAAAAAAADg/wg0ilZ8w0I8/s200/IMG_9783.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Kondisi ekonomi sekarang menurut Kardi sangatlah mengkawatirkan.” Koruspsi yang meraja lela dimana-mana, para penguasa seakan-akan tidak memperhatikan nasib rakyatnya”tandas Bapak berusia kepala 4 itu. Kardi juga menambahkan,” Walaupun saya ini cuma dari kalangan tingkat rendah ya Mas, tapi saya juga ikut memikirkan negeri ini, melihat korupsi dimana-mana, para penguasa sibuk menghitung uangnya, dan sepertinya para penguasa sepertinya tidak memikirkan rakyat kecil seperti saya ini”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;Sebuah suara dari rakyat kecil seperti mereka, namun memberikan wawasan yang begitu nyata, dalam, bermanfaat bagi kita. Bahwasanya kita itu hidup dituntut untuk berusaha, bekerja keras dan berdoa serta pantang menyerah. (Sigid Kurniawan/153070139/A)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-3568845085326606712?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/3568845085326606712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/maintence.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3568845085326606712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3568845085326606712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/maintence.html' title='Ketika Tukang Becak Angkat Bicara'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0twxdCYdBI/AAAAAAAAAC4/SGZFzufxXw8/s72-c/IMG_9799+k.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-3630174045216235017</id><published>2010-01-11T06:12:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T11:14:35.352-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indept reporting'/><title type='text'>Gairah Bisnis Melanda Kaum Intelektual muda.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seiring dengan perkembangan dan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan di era globalisasi sekarang, dunia bisnis pun turut mengalamai perkembangan yang pesat. Berbagai jenis usaha bermunculan mulai dari usaha manufaktur, kecil, menengah, bahkan yang besar sekalipun ikut peran serta meramaikan kancah persaingan bisnis di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beragam jenis usaha dengan inovasi baru pun lahir, baik didalangi oleh pemain lama atau pun pemain yang tergolong baru di dunia kewirausahaan. Jelasnya, kehadiran mereka dengan berbagai macam kreasi bisnis usaha yang diciptakan, turut memberi nafas bagi perekonomian negeri yang sedang carut – marut ini. Para pelakon dalam dunia kewirausahaan tersebut, berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan  yang menjadi sorotan utama ialah semakin bermunculannya para pemain baru yang  berasal dari kaum intelektual muda yang menciptakan peluang – peluang usaha dengan varian baru. Turut andilnya mereka dalam dunia kewirausahaan di Tanah air merupakan suatu fenomena yang sedang populer sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tampaknya gairah bisnis sedang melanda para kaum intelektual muda kita. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa para intelektual muda tersebut dengan bermodalkan insting bisnis, dan dengan segenap ide kreasi segar serta semangat energik yang mereka miliki mampu melahirkan jenis usaha baru yang lebih inovatif, atau pun me-recycle usaha jenis lama menjadi sebuah usaha/ bisnis dengan prospek yang lebih menjanjikan dari sebelumnya. Banyak contoh dari sekian kaum intelektual muda Tanah air ini yang memacu peruntungan lewat dunia bisnis, dan tidak sedikit pula diantara mereka yang meraih kesuksesan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Naluri Bisnis Seorang Budi.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Meski setiap harinya Budi Rahman disibukkan dengan kegiatan kuliahnya disalah satu perguruan tinggi swasta di wilayah Yogyakarta, bujangan kelahiran 22 tahun silam ini masih bisa menyempatkan diri untuk mengurusi usaha pembibitan  ikan air tawar miliknya di sekitar daerah Babarsari, Sleman Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0stC1p4L-I/AAAAAAAAACg/UzUfqlYpwvs/s1600-h/IMG_6400.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="210" src="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0stC1p4L-I/AAAAAAAAACg/UzUfqlYpwvs/s320/IMG_6400.JPG" width="313" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Budi Rahman merupakan salah satu potreit sosok wirausahaan muda asal Yogyakarta yang telah menekuni usaha pembibitan ikan air tawar hampir selama 2 tahun. Dengan segala kesibukan yang ia miliki, mahasiswa tingkat lima jurusan ekonomi ini mengaku menikmati usaha yang ia jalankan.  Ia menjelaskan bahwa pada dasarnya memang gemar memelihara hewan dari sejak kecil, disamping itu ia memang menyenangi dunia bisnis, meskipun disadarinya ia sama sekali tak mewarisi darah pembisnis dari kedua orang tuanya. Kedua orang tua Budi, begitu Ia biasa dipanggil, hanyalah seorang pegawai negeri biasa, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga tulen. Namun walaupun demikian adanya, keluarga mendukung penuh atas usaha yang dijalani Budi sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berawal dari isengnya budi yang kerap nongkrong bersama teman – temannya di daerah sekitar tambak tempat pembudiyaan daya ikan air tawar, timbul hasrat dalam dirinya untuk mencoba menekuni usaha yang serupa. Bermodalkan uang pas – pasan dan pengalaman dimana dulunya Ia pernah mempunyai usaha kecil – kecilan dalam ternak jangkrik dan pengetahuan yang didapat dari lingkungan sekitar, maka Ia mulai mencoba menggeluti usaha pembibitan air tawar ini. Pada awal pertama kali merintis usaha, Ia memiliki seorang partner kerja dengan prinsip modal bersama dan ketentuan bagi hasil masing – masing 50 % per orang. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, mereka memilih pisah, dengan dalih ingin mengembangkan usaha secara mandiri.  Menjadi seorang pengusaha sukses yang mandiri, sudah merupakan cita – cita Budi sejak awal mengenal bangku SMP, dan kini Ia telah mencoba untuk merealisasikannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hebatnya, usaha yang sudah Ia tekuni selama kurun waktu 2 tahun ini, dijalaninya tanpa bantuan seorang karyawan pun.Walau mengaku kerepotan dengan jadwal kuliah dan tugas harian yang padat, Ia lebih memilih menjalankan usahanya ini sendiri, sebab dengan begitu menurutnya usaha akan mudah terkontrol dengan baik. Hingga saat ini, Budi telah mampu menyewa 5 kolam besar dan 3 kolam kecil dengan total biaya sewa Rp. 2 juta / tahun, khusus untuk pembibitan ikan Nila, Gurame dan Bawal. Ia memilih pembibitan jenis ikan tersebut, sebab selain cenderung banyak peminatnya, harga jual lumayan tinggi, selain itu pasokan bibitnya pun mudah didapat dan perawatannya pun terbilang tidak serumit dan selangka bibit ikan Lele. Untuk bibit ikan, biasanya Ia mendapat pasokan silang dari kolam – kolam sekitar milik petani lain, dengan sitem simbiosis mutualisme alias bagi hasil ataupun dengan cara membeli seharga Rp. 200/ ekor. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama menjalankan usaha ini, Ia menjelaskan belum pernah mengalami kerugian. Tetapi bukan berarti usahanya bebas hambatan. Hambatan tersebut bukan berasal dari segi pemasaran, sebab Ia mengaku tidak terlalu khawatir terhadap persaingan yang terjadi antar sesama petani ikan, kemungkinan tersebut sedikit sekali, sebab yang sifatnya bahan pangan pasokan untuk permintaan pasar selalu dibutuhkan. “ Kita, sesama petani saling dukung...kok”. tuturnya. Ia mengungkapkan, keadaan seperti ini berbanding terbalik dengan pengalamannya saat menjadi peternak Jangkrik, yang mana begitu banyak diwarnai  persaingan, yang tidak hanya dari peternak lokal saja, tetapi bahkan luar kota juga. Hambatan yang Ia alami selama menjalankan usaha ini, lebih dikarenakan faktor alam, yaitu adanya wabah musiman yang kerap menyerang ikan, suplai air kolam yang sulit disaat musim penghujan tak kunjung datang. Disamping itu, kendala lain yang menjadi hambatan ialah mengenai biaya pakan ikan yang sering membengkak, dimana Budi harus mengeluarkan kocek senilai Rp. 100.000/ bulannya untuk pembelian pakan ikan berupa pelet, dan untuk menekan biaya pakan, Budi harus menyiasatinya dengan membeli sayuran busuk guna asupan tambahan pakan ikan dengan biaya Rp. 5.000 rutin setiap harinya. Jadi, total rincian biaya pakan yang harus Ia keluarkan yakni sebanyak Rp. 250.000/ bulannya untuk  25 Kg bibit ikan. Hal lain yang menjadi perhatian Budi, yaitu masalah seputar sulitnya pencarian tempat untuk sewa kolam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Walaupun demikian, biaya yang membengkak dapat tertutupi dengan profit lumayan yang dibisa diraup Budi dari hasil penjualan ikan untuk masa 3 kali panen dalam 1 tahun, yakni rata – rata Rp. 900.000. Biasanya, Budi mematok harga jual bervariasi untuk masing – masing ikannya. Seperti bibit ikan Nila yang dijual Rp. 12.000/Kg, Bawal Rp. 10.000/Kg, dan yang paling mahal  bibit ikan Gurame seharga Rp. 22.000/Kg. Target pemasaran bibit ikan milik Budi yakni langsung ke para tengkulak dan dilempar ke pasar – pasar tradisional. Hasil dari penjualan yang lumayan tersebut tentunya tak lupa Ia sisihkan sebagian untuk di tabung, dan sisanya, sering digunakan sebagi uang sakunya sendiri, sehingga jika hanya untuk sekedar jajan sehari – harinya, Ia sudah jarang mengharap pemberian orang tua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rahasia Dibalik Sukses Budi.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0spTstS_eI/AAAAAAAAACQ/DV4GAHYYxZ4/s1600-h/IMG_6410.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0spTstS_eI/AAAAAAAAACQ/DV4GAHYYxZ4/s320/IMG_6410.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Didalam dunia bisnis, memang kerap diwarnai sejumlah persaingan antar sesama pelakonnya. Intrik yang digunakan cukup bervariasi, guna melihat kejatuhan lawan bisnis dan mengalihkan saluran dari pundi – pundi keuntungan lawan ke kas sendiri.  Berbagai macam cara dilakukan, entah itu melalui persaingan yang sehat, lewat peran halal atau pun licik, kesemuanya tergantung niat dan pilihan masing – masing dari para pelakonnya. Dalam percaturan bisnis, kemungkinan terburuk yang tersaji dalam kegagalan dan kerugian bisa saja menimpa siapapun dan kapanpun. Yang jelas tidak ada tempat bagi para pengecut di dalam persaingan ini. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Demikian pula halnya dengan langkah berani yang diambil Budi, Disaat teman – teman sebayanya melangkah riang keluar masuk Mal, Ia malah asyik menceburkan diri kedalam dunia bisnis yang menguras waktu luang dan pikirannya. Langkah berani seorang Budi ini, patut diancungi jempol dan menjadi inspirasi bagi banyak anak muda lainnya. Bermodalkan kemandirian, keberanian dan ketekunan, Ia telah mampu melenggang ditengah kancah persaingan bisnis. Berkat restu dan dukungan moril dari orang – orang terdekatnya, layaknya kedua orang tuanya yang men-suport penuh atas aktivitasnya ini, Ia merasa lebih percaya diri lagi. Cita – cita yang Ia pelihara sejak awal, telah coba Ia wujudkan lewat usaha sederhana, namun bisa menjadi tonggak kesuksesannya dimasa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Budi yang dilatar belakangi keluarga agamis ini, selalu mengedepankan prinsip jujur pada kehidupan pribadinya, termasuk pula dalam kehidupan usaha yang sekarang Ia jalani. Strategi bisnis yang Ia terapkan, yakni selalu berusaha mengutamakan kualitas dan kepuasan pelanggannya. Maka tak mengherankan kalau hingga sekarang usaha miliknya kian hari kian berkembang. Ketika ditanya menyangkut soal harapannya untuk usahanya mendatang, Pemuda berlesung pipit ini nyengir sembari menjawab “ Harapan saya yah...kepengen usaha ini bakal langgeng seterusnya, dan kepengen juga sih...coba usaha lain, kayak punya usaha warung makan gitu...”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tulis oleh : Septi Andriani ( 153070378 )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-3630174045216235017?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/3630174045216235017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/gairah-bisnis-melanda-kaum-intelektual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3630174045216235017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3630174045216235017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/gairah-bisnis-melanda-kaum-intelektual.html' title='Gairah Bisnis Melanda Kaum Intelektual muda.'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0stC1p4L-I/AAAAAAAAACg/UzUfqlYpwvs/s72-c/IMG_6400.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-6941775222333691032</id><published>2010-01-10T22:24:00.001-08:00</published><updated>2010-01-11T11:12:28.405-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil dan Prestasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indept reporting'/><title type='text'>Agus Katro Melukis Jalanan</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CFrida%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="State" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter	{margin:0in;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	tab-stops:center 3.0in right 6.0in;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:8.5in 11.0in;	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;	mso-header-margin:.5in;	mso-footer-margin:.5in;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0rCB2Tx1xI/AAAAAAAAACA/DRO7vVRfMhU/s1600-h/masagus.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0rCB2Tx1xI/AAAAAAAAACA/DRO7vVRfMhU/s320/masagus.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;“Jalanan adalah rumah bagi saya”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Pelukis gondrong yang terkenal dengan gayanya yang sangat spontan dan eksentrik ini sudah puluhan tahun malang-melintang di kehidupan jalanan. Sekian banyak pameran diikutinya, baik berskala lokal-regional, maupun nasional. Ada juga karya-karya Agus Katro yang dikoleksi oleh beberapa museum dan Galeri di Luar negeri, seperti Belanda, Jerman, New Zealand dan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bila anda berkunjung ke pasar senthir Malioboro, nama Agus katro sudah tidak asing lagi di kalangan para pedagang sepeda antik. Apalagi kalau anda berkunjung ke Pasar Kembang. Tapi jangan salah, jangan berburuk sangka dulu. Di kawasan yang terkenal dengan image wilayah “X” ini Agus berkesenian. Kesenian macam apakah yang dilakukan di sekitaran pasar kembang?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Malam itu akhirnya saya bisa bertemu dengan Mas Agus Katro di rumahnya yang terletak di daerah Mrisi, sebelan selatan pabrik gula Madukismo. Sulit menemui seniman yang satu ini, kesibukannya bukan hanya melukis, belakangan ia sangat intens memberi workshop menggambar untuk anak-anak kecil yang tinggal di sekitaran Pasar Kembang. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Agus Katro adalah nama beken dari Agus Suyamto. Pria kelahiran Solo 16 Desember 1968 ini sejak kecil memang hobi menggambar. Tak jarang orangtuanya harus repot menghapus coretan-coretan yang dibuat Agus di berbagai sudut rumahnya. “sejak kecil saya ini nggak punya cita-cita”, ungkapnya ketika ditanya tentang cita-cita sewaktu kecil. Ketika SMA Agus sempat mendaftar menjadi tentara, itupun karena permintaan orangtua. Alhasil uang sepuluh juta rupiah yang jelas cukup besar waktu itu hanya melayang percuma.”Jaman segitu pakai pelicin sepuluh juta, eh ternyata malah gagal”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Lagi-lagi orangtuanya meminta Agus menjadi pengabdi negara. Kali ini berbeda, orang tua Agus memintanya untuk mendaftar di Dinas Kesehatan. Agus yang terlanjur patah hati karena tidak diterima menjadi tentara menolak dengan tegas keinginan orangtuanya. Keputusasaan sempat menyelimuti pikiran Agus, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkesenian. Apalagi kalau bukan tentangan dari keluarga yang didapat Agus. Bagi orangtua di jaman itu menjadi pegawai negeri adalah tolak ukur prestise dan kemapanan. Bahkan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dengan berat hati kedua orangtuanya membiarkan Agus berkuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo mengambil jurusan Tata Rupa Panggung. Hanya bertahan satu tahun, Agus merasakan banyak benturan, mulai dari ia merasa jurusan yang ia pilih dirasa tidak sesuai dengan keinginannya yang lebih ingin menjadi pelukis, keluarga yang setengah hati membiayai, sampai hal-hal yang baginya sangat ideologis dalam proses berkeseniannya waktu itu. Agus ingin menjadi pelukis!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Berbekal Sepuluh Ribu Rupiah Nekat ke Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sekitar tahun 1991 Agus nekat hijrah ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pertama kali sampai &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;di Jakarta&lt;/st1:city&gt;,  &lt;st1:state w:st="on"&gt;ia&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; tinggal di sekitaran pondok bambu. Hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah yang ia dapat dari ibunya ia jelajahi kerasnya jalanan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mulai dari berjualan permen, menjadi pengasong koran, kuli bangunan, tukang adu ayam, dan berbagai pekerjaan lain yang dijalaninya untuk sekedar bertahan hidup dan melukis. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Setiap mendapat uang dari bekerja ia belikan peralatan lukis dan makan. Sisa membeli peralatan lukis dan makan selalu diberikan pada orang-orang di sekitarnya. “Semua orang yang hidup di jalan itu saudara saya mas, seluruh &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; itu rumah saya. Lhah wong tidurnya sak enake dhewe kok.”. Tak jarang Agus memilih menahan lapar untuk orang lain yang dipandang lebih menderita dibandingkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sekitar tahun 92 Agus memutuskan untuk bekerja sebagai pelukis jalanan. Ia menggelar jasa lukis foto di sekitar Blok-M. Pada awalnya tak jarang ia harus berurusan dengan preman sekitar Blok-M.”Hampir setiap hari saya berkelahi, ya apa boleh buat”. Setelah diterima sebagai “orang Blok-M”, Agus mengalami benturan lagi. Kawan-kawannya sesama pelukis jalanan mengganggapnya terlalu idealis dan tidak cocok melukis di jalan. Berbagai kritikan pedas tak membuat Agus berkecil hati, justru sebaliknya, hal itu memacu Agus untuk terus belajar dan berjuang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Di Bali Saya Lahir sebagai Pelukis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0rCDgTcqlI/AAAAAAAAACI/U7WTZt7EGxk/s1600-h/nasim.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0rCDgTcqlI/AAAAAAAAACI/U7WTZt7EGxk/s320/nasim.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Tahun 1993 Agus memutuskan untuk hijrah ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Ia mengaku tak pernah tahu di mana dan seperti apa &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Ia hanya pernah mendengar dari kawan-kawannya sesama pelukis jalanan, bahwa &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; adalah sarangnya pelukis hebat. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dengan modal nekat ia berangkat ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Sesampainya di terminal Ubung, Agus berkenal dengan Made Cun, salah satu preman terminal yang mengantarkannya ke Ubud. Made Cun mengatakan bahwa Ubud adalah salah satu daerah di &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; yang menjadi gudangnya pelukis dan galeri. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Di Ubud ia mengenal beberapa pelukis sesama perantau, seperti Badrus, Soni, Yoyok, Murita dan lain-lain. Ketika awal di Bali Agus tinggal tidak menetap, kadang menumpang di tempat teman sesama pelukis, tapi seringkali juga tidur di jalanan. Entah emper toko, pasar atau tempat apapun asal bisa untuk tidur, ungkap Agus. “Awal di Bali, hidup saya jauh lebih berat daripada di &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Satu hari bisa makan sekali saja sudah bagus. Kadang malah dua atau tiga hari baru bisa makan. Tergantung lukisan laku apa tidak.” Berbagai cobaan yang terpaksa membuat Agus hidup prihatin justru menjadi energi dan semangat bagi Agus untuk tetap melukis. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&amp;nbsp;“Saya itu lahir sebagai pelukis ya di Bali”. Bila sebelumnya Agus hanya sekadar melukis, lain di Bali. Agus mulai mengenal aliran-aliran dalam lukisan dan berbagai teknik atau &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; melukis. Persinggungan Agus dengan banyak pelukis di &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, mulai membuka mata Agus tentang perspektif melukis dan berkesenian. Hampir dua tahun di &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, baru Agus mampu untuk kos dan hidup lebih dari cukup untuk ukurannya pada saat itu. Tapi tetap Agus tidak pernah lupa dengan jalanan. Ia selalu memberikan lebih dari sebagian rejekinya untuk orang-orang jalanan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Awalnya Agus asyik menekuni &lt;st1:city w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt; impresionisme, sempat beralih ke abstrak, hingga akhirnya ia nikmat dengan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; naïf figuratif. Tema dan figur yang muncul di lukisannya, selalu tema-tema urban, problematika masyarakat kelas bawah dan berbagai persoalan sosial yang dirasa dekat dengannya. Jalanan menjadi sumber rumah, sekaligus sumber inspirasi baginya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Tahun 98 ia menikah dengan pelukis asal &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Iran&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang bernama Nasim. Perkenalan yang hanya berlangsung selama tiga bulan bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal dan memutuskan untuk membuat ikatan kehidupan yang lebih serius.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Mereka hidup sebagai dua seniman eksentrik dengan orientasi sosial yang tinggi. Pernikahan dengan Nasim tidak membuat Agus berubah, jalanan tetap menjadi segalanya bagi Agus.. Menurut Nasim, justru karena itulah ia sangat mencintai Agus. Baginya ia suami yang spontan, berhati besar, sehingga sering tidak menggunakan pikirannya dalam bertindak untuk hal-hal yang bersifat sosial. “bagi saya di situlah sebenarnya esensi berkesenian’ tutur pelukis tamatan salah satu universitas seni terkemuka di Belanda ini. Ketika kita mampu berbesar hati menangkap dan merespons kondisi sosial dengan spontan (rasa), daripada pikiran. Meletakkan ego sebagai seniman dan melukis dengan sikap dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;13 tahun dirasa cukup bagi Agus menimba ilmu dan menimba hidup di &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan proses berkeseniannya di &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Saya menemukan &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; di Pasar Kembang (Sarkem)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Teh suguhan dari Agus sudah hampir tandas, tapi dia masih begitu berapi-api menceritakan perjalanan hidupnya. “Saya juga nggak tahu mas, dari dulu saya itu nggak pernah mikir masa depan, bahkan saya itu sering nggak makan kok, yang penting bisa beli cat, terus sisanya buat orang lain.hahaha”. Agus mengutarakan itu dengan sangat spontan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Agus memutuskan ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Menurut Agus Yogyakarta memiliki aura berkesenian yang lain dan sangat berbeda dengan &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Tak bisa dipungkiri sejarah seni lukis &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; memang sangat luar biasa. Orang-orang semacam Affandi, Basuki Abdullah dan sejumlah nama besar lainnya menempuh prosesnya di &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Memang pada kenyataannya, sekarang ini banyak sekali terjadi monopoli pasar dan hegemoni dari kelompok-kelompok tertentu, tetapi bagi Agus itu hanya dinamika dari proses berkesenian. “Obsesi saya tetap jadi orang terkenal dan profesional mas, tapi saya nggak akan lupa sama jalanan”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Agus juga tidak begitu ingat, sejak kapan dia asyik dengan suasana di sarkem. Baginya sarkem adalah tempat yang sangat inspiratif. Agus mengungkapkan, bahwa justru di Sarkem ia banyak belajar tentang hidup. Tentang janda berusia 18 tahun yang harus menghidupi dua anaknya, tentang istri yang memang “dijual” suaminya, tentang anak berusia 14 tahun yang harus merelakan kegadisannya sekedar untuk makan. Masih banyak lagi tentunya serangkaian kisah satir lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Di Sarkem Agus tidak sekedar melukis dan mengajari siapapun yang ingin belajar melukis, seperti kebiasaannya ketika hidup di &lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt; dan &lt;st1:place w:st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;, seringkali Agus membagikan sedikit rejekinya untuk orang-orang di sekitar sarkem. Ia sering tidak tega melihat perempuan malam di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. “Kalau nggak laku ya, kasihan juga Mas, kadang mereka itu seharian juga bisa nggak makan kok mas. Kalau saya punya uang ya saya belikan sego kucing, kalau nggak punya ya&amp;nbsp; sama-sama laparnya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Saya itu menemukan &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; ya di Sarkem”. Menurut Agus,,kehidupan di Sarkem lebih menyedihkan, daripada di tempat-tempat lain. Orang-orang di Sarkem adalah orang-orang yang nekat bertahan hidup. Sama seperi seniman. Sebagian besar masyarakat masih belum bisa menerima pekerjaan sebagai seniman. Mirip juga dengan pelacur. Saya berproses yang di jalan, ya di sarkem, ya di mana saja. Yang penting saya bisa melukis dan membuat orang lain senang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Melukis itu nggak hanya di kanvas, jalanan juga saya lukis!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br clear="all" style="page-break-before: always;" /&gt; &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;Seniman dan Realitas Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tak beda dengan sebuah profesi konvensional lainnya, berkesenian juga merupakan sebuah pilihan logis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Putu Wijaya, ketika menjadi seniman selayaknya berpikir idealis, tetapi tetap realistis. Tentu, ketika idealisme dan kebutuhan domestik dapat bersinergi, maka lengkaplah hidup seorang seniman.Benarkah itu? Lalu bagaimanakah dengan ruang sosial yang lebih luas?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Siapa yang tak kenal dengan Djoko Pekik, pelukis tua yang terkenal lewat lukisan babinya, tepat ketika lengsernya rezim Soeharto.. Sekitar tahun 60-an Djoko Pekik bersama kawan-kawannya mendirikan Sanggar Bumi Tarung, sebuah sanggar yang berisi para pelukis dan para perupa yang disingkirkan dengan begitu naïf oleh kungkungan orde baru. Sanggar ini memiliki prinsip bahwa seorang seniman harus tetap turun ke bawah untuk “merasai dan benar-benar memberikan solusi secara lebih konkret dan langsung”. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam tradisi Aristotelian, memandang prinsip estetika berdasarkan dua hal, form (bentuk) dan isi (content). Ketika sebuah karya hadir, tentu karya itu berangkat dari kerangka berpikir dan pengalaman senimannya yang berikatan kuat dengan konstelasi sosiokulutural tempat seorang seniman berada. Bentuk dan isi dalam karya seni terkadang seperti sebuah &lt;i&gt;puzzle&lt;/i&gt; yang saling mencari kesesuaian. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Sekitar tahun 60 an, boleh dibilang tahun di mana kesenian dan politik bersinergi untuk saling membangun strata dan kekuatan. Setidaknya ada dua kubu besar yang saling bertentangan, yaitu LEKRA dan MANIKEBU. LEKRA cenderung humanis dan MANIKEBU cenderung UNIVERSALIS. LEKRA diidentikkan dengan komunisme, sedangkan MANIKEBU diidentikkan dengan liberalisme. Pada era Soekarno, LEKRA begitu berkembang. Anggotanya sangat banyak, bahkan orang-orang di luar kesenian, seperti petani, buruh dan berbagai “profesi kerakyatan”, bergabung dalam LEKRA.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bagi seniman yang cenderung universalis, menganggap seniman yang hadir di tangah masyarakat tidak harus untuk memberikan solusi pada persoalan sosial. Justru lewat karyanya seniman bisa saja mengajak masyarakat untuk sekedar katarsis, atau bahkan mengalienasi dirinya dari persoalan. Seperti dikatakan Anton Chekov, bahwa seniman tidak harus hadir seperti orang optimis, seniman juga bisa hadir sebagai orang pesimis, karena seniman bukanlah Tuhan. Dengan kata lain, terkadang kesenian dan persoalan sosial memang harus dipisahkan sebagai dua realitas yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Berbeda lagi pandangan seniman yang cenderung humanistis. Bagi seniman humanistis, seorang seniman adalah seseorang yang seharusnya lebih peka dan tanggap dengan segala persoalan sosial. Seniman harus benae-benar turun ke bawah, mengamati penderitaan rakyat dengan berbicara langsung dengan rakyat, membantunya mencangkul dan tidur beralas tikar bersama. Tidak sedikit kelompok atau organisasi seni yang dianggap cenderung kiri oleh orde baru disingkirkan begitu saja, walaupun notabene tak pernah bersinggungan dengan PKI dan komunisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Situasi sosial politik hari ini cukup berbeda. Kecenderungan seniman dalam berkaryapun berbeda. Banyak sekali wacana-wacana baru, metode, dan ideologi dalam kesenian. Mengenai bagaimana konsekuensi seni terhadap masyarakat, ruang fisik, budaya tanding, subkultur, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Pada dasarnya tentu semuanya hanya sebuah pilihan. Estetika tentu tak melulu bicara soal keindahan. Lebih dari itu, estetika juga berbicara mengenai konteks ruang, waktu dan suasana. Artinya satu karya seni akan “hidup” dan bermakna ketika menemukan satu ekosistem yang tepat, atau sebaliknya beradaptasi dan melakukan perubahan posiitf pada ekosistem yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Seperti dikatakan WS Rendra dalam salah satu puisinya yang berjudul sajak sebatang lisong, &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;“Apalah artinya Renda-Renda Kesenian&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bila terpisah dengan derita lingkungan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Apalah artinya berpikir&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Bila terpisah dengan masalah kehidupan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Kepadamu aku bertanya!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right; text-indent: 0.5in;"&gt;Yogyakarta 11 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right; text-indent: 0.5in;"&gt;Andika Ananda&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: right; text-indent: 0.5in;"&gt;153070083&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-6941775222333691032?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/6941775222333691032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/agus-katro-melukis-jalanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6941775222333691032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6941775222333691032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2010/01/agus-katro-melukis-jalanan.html' title='Agus Katro Melukis Jalanan'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/S0rCB2Tx1xI/AAAAAAAAACA/DRO7vVRfMhU/s72-c/masagus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-633455235834485734</id><published>2009-12-02T21:06:00.000-08:00</published><updated>2009-12-02T21:06:03.221-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Apresiasi Warga Sleman Dalam Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SxdG8yYGYzI/AAAAAAAAAB4/pSCz0JM2aiM/s1600-h/Kirab+Karnaval+Pelangi+Budaya+Sleman+1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" er="true" src="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SxdG8yYGYzI/AAAAAAAAAB4/pSCz0JM2aiM/s400/Kirab+Karnaval+Pelangi+Budaya+Sleman+1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;SLEMAN (portal kiri) - Sejumlah 38 peserta pewakilan kelompok budaya meliputi bregada prajurit tradisional, kesenian tradisional, komunitas mahasiswa dan perguruan tinggi., Kelompok pariwisata dan batik, desa-desa wisata memeriahkan Kirab Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi Sleman Rabu (2/12). Dengan menempuh rute sepanjang tiga kilometer dari Lapangan Mlati hingga Lapangan Denggung Sleman. &lt;br /&gt;"Kegiatan in merupakan wujud dari keberagaman serta keragaman masyarakat yang tinggal di Sleman yang menjadi kekuatan tersendiri bagi Kabupaten Sleman untuk meningkatkan dan memberdayakan kemandirian masyarakat dalam pembangunan. Apalagi kebanyakan masyarakat sudah mulai jauh dari nilai kebudayaannya sendiri dan lebih memilih kebudayaan yang berasal dari luar, seperti gotong royong yang mulai ditinggalkan dan digantikandengan pola hidup individualis," kata Wakil Bupai Sleman, Sri Purnomo saat ditemui di Lapangan Degung, Sleman, Rabu (2/12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Sri Purnomo mengatakan karnaval pelangi budaya bumi merapi ini merupakan moment yang sangat strategis untuk semakin mengenalkan dan mempromosikan potensi wisata Sleman kepada masyarakat luas. kirab ini juga merupakan salah satu upaya untuk mengajak masyarakat dalam membangun Sleman baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, keamanan, seni budaya maupun spiritual yang mencerminkan semangat membangun Sleman menuju kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan Ketua Panitia Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi Sleman, R. Joko Handojo menjelaskan kegiatan ini merupakan rangkain puncak Hari KORPRI yang menggambarkan keanekaragaman potensi budaya Sleman dan sekaligus wujud kegembiraan telah ditetapkannya Batik oleh UNESCO sebagai karya bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyelenggaraannya tahun ini Pelangi Budaya Bumi Merapi diikuti hingga ribuan peserta yang berasal dari seluruh stake holder pariwisata di Sleman. Karnaval akan dibagi menjadi sejumlah kelompok yaitu kelompok budaya, pariwisata dan batik, Badan Permusyawaratan Musea (Barahmus), perbankan, sekolah, dinas atau instansi, sepeda onthel serta, hingga Merapi Off-Road," kata Joko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan acara pendukung berupa pentas seni pelangi budaya yang meliputi jathilan, kobrasiswa, macapat, dolanan anak, dadhung awuk, barongsai dan karawitan anak. Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan wujud nyata dari keanekaragaman potensi budaya dan seni di Kabupaten Sleman yang dieksplorasikan melalui kreativitas dan inovasi para peserta karnaval.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan event ini dapat membangun kebersamaan warga masyarakat Sleman dalam bingkai budaya, menumbahkan kreatifias dalam mengapresiasi budaya masyarakat, memberikan hiburan segar dan mendidik bagi segenap lapisan masyarakat, wahana pelestarian dan penembangan serta pemanfaatan kebudayaan. Sekaligus dapat memupuk rasa memiliki terhadap budaya lokal dan budaya positif yang berkembang di Sleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya telah dilakukan acara seremonial berupa pencanangan penggunaan pakaian batik bagi instansi pemerintah dan sekolah-sekolah, serta sebagai himbauan kepada masyarakat untuk juga mengenakan batik.(G. Agung Bayu Kurniawan/153070021)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-633455235834485734?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/633455235834485734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/12/apresiasi-warga-sleman-dalam-karnaval.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/633455235834485734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/633455235834485734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/12/apresiasi-warga-sleman-dalam-karnaval.html' title='Apresiasi Warga Sleman Dalam Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SxdG8yYGYzI/AAAAAAAAAB4/pSCz0JM2aiM/s72-c/Kirab+Karnaval+Pelangi+Budaya+Sleman+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-5653117761387465501</id><published>2009-11-29T05:25:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T05:28:57.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>festival kesenian yogyakarta, cara baru unjuk gigi.</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SxJ3A_7Y5UI/AAAAAAAAABw/bTE6HUJVQVM/s1600/Upacara+Adat+Nawu+Enceh+dari+Bantul.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SxJ3A_7Y5UI/AAAAAAAAABw/bTE6HUJVQVM/s320/Upacara+Adat+Nawu+Enceh+dari+Bantul.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;-Upacara adat hanya dilakukan sebagai rutinitas padahal jika dikemas akan menjadi atraksi budaya yang bisa menjadi potensi pariwisata pasti akan lebih menarik lagi.Kali ini dalam Festifal Upacara Adat Propinsi DIY 2009 yang baru pertama kalinya diadakan di DIY ditampilkan ratusan peserta Upacara Adat dari 5 Kabupaten dan kota se-DIY di Alun-alun Utara yang kemudian melaksanakan kirab mengelilingi benteng keraton dan berakhir kembali di alun-alun kota yogyakarta.&lt;br /&gt;"Festifal upacara adat ini sebagai cara untuk mengeluarkan atraksi budaya agar mampu mengundang wisatawan, menariknya festifal ini tidak sekedar pawai upacara adat saja tetapi juga sekaligus menampilkan keseluruhan prosesi ritual adatnya" ujar Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY, Drs. Joko Dwianto saat ditemui di Alun-alun Utara, Yogya, Minggu (29/11). Upacara adat yang ditampilkan dalam Festifal Upacara Adat Propinsi DIY 2009 merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk penguatan nilai-nilai kearifan local, pewarisan semangat, pelestarian pada generasi muda, mendukung ruang ekpresi budaya bagi kaum adapt, meningkatkan kualitas dan tampilan upacara adapt menjadi atraksi budaya rutin tahnuan serta menunjang kepariwisataan DIY. &lt;br /&gt;Hal lain yang sangat menarik adalah bagaimana menyaksikan upacara adat yang langka, jarang kita dengar, apalagi disaksikan oleh generasi muda - namun tetap eksis di pelosok pedesaan - seperti Tuk Sibedug &amp;amp; Bekakak dari Sleman, Babad Dalan &amp;amp; Cingcing Goling dari Gunungkidul, Nawu Enceh &amp;amp; Maheso Suro dari Bantul, Wiwitan &amp;amp; Nawu Sendang dari KulonProgo serta Ruwatan &amp;amp; Merti Code dari Kota Yogyakarta akan ditampilkan dengan pelaku-pelaku dan propertinya aslinya&lt;br /&gt;Dia mengatakan saat ini di DIY terdapat setidaknya 32 desa budaya yang bisa dikembangkan, masing-masing setidaknya mempunyai upacara adat dan atraksi budaya yang masing-masing mempunyai daya tarik tersendiri sebagai potensi pariwisata.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Joko mengatakan saat ini pemerintah Propinsi DIY mempunyai cita-cita agar masing-masing desa budaya mampu mengembangkan apa yang potensi yang mereka punyai.&lt;br /&gt;Pemerintah akan memberikan stimulan serta dukungan infrastruktur dalam bentuk seperangkat gamelan dan tentunya sarana lain yang menunjang potensi budaya.Harapan kedepannya acara ini akan digelar setiap tahun atau menjadi event reguler dengan format yang lebih besar dan lebih baik.(G. Agung Bayu Kurniawan/153070021)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-5653117761387465501?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/5653117761387465501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/festival-kesenian-yogyakarta-cara-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5653117761387465501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5653117761387465501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/festival-kesenian-yogyakarta-cara-baru.html' title='festival kesenian yogyakarta, cara baru unjuk gigi.'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SxJ3A_7Y5UI/AAAAAAAAABw/bTE6HUJVQVM/s72-c/Upacara+Adat+Nawu+Enceh+dari+Bantul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-6145229356192848299</id><published>2009-11-23T20:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T20:20:05.294-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Perkembangan Komunitas Jazz Jogja</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Bantul, Portalkiri&lt;/b&gt; - Di tahun 2000 sebuah komunitas jazz lahir di sebuah restoran di Yogyakarta. Dimulai dari sekumpulan musisi jazz yang berusaha untuk mengenalkan jazz pada masyarakat, bahwa jazz bukan musik yang bisa dinikmati oleh menengah ke atas saja, melainkan bisa dinikmati oleh semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jazz sendiri juga awalnya adalah musik orang minoritas, yaitu orang kulit hitam yang tinggal di Amerika. Tetapi kemudian image itu diubah jika jazz hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berduit yang datang ke restoran mahal menggunakan jas,” kata Fabion Haryo Ajie selaku anggota dari Komunitas Jazz Yogja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Jazz Yogya memulainya dengan membuat acara rutin mingguan yang tempatnya disediakan oleh DJ Fanny. “Di situ kami membuat acara jam session khusus jazz sebagai dasar terbentuknya komunitas jazz di Yogyakarta. Selain jam session kami juga mengadakan workshop kecil-kecilan sebagai tambahan ilmu bagi temen-temen yang ingin tahu banyak tentang jazz,” kata Bion, sapaan akrab Fabion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Workshop ini akhirnya mampu mendatangkan musisi jazz yang sudah punya nama seperti Indra Lesmana, Benny Likumahua, dan lain sebagainya agar pemikiran jazz tidak hanya terpaku dalam pengertian jazz tetapi mencakup keseluruhan dari genre musik yang ada di jazz itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata jazz bukan hanya sekedar fusion saja, tetapi banyak genre lain juga, misalnya blues dan bossanova. Hasil dari workshop dan jam session ini adalah kami bisa mengirim temen-temen di festival jazz, Jazz Goes To Campus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan berhasil menjadi juara pertama dalam festival tersebut. Semua dapet the best player,” tutur Bion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga terulang pada festival serupa pada tahun-tahun berikutnya. “Akhirnya anak-anak Jakarta tidak lagi menganggap remeh anak-anak Yogya, dan kredibilitas Jogja menjadi patokan perkembangan jazz daerah lain,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjadikan musisi jazz Jakarta tertarik untuk bekerjasama dengan musisi Jogja, sehingga komunitas jazz Jogja mengalami kekosongan. Dalam kekosongan ini sempat muncul komunitas-komunitas baru. Kekosongan ini dibiarkan selama dua tahun karena kesibukan masing-masing dari anggota Komunitas Jazz Yogya. Kevakuman ini juga berimbas ke kota lain seperti Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas baru yang terbentuk ini ingin mengeksiskan kembali geliat musik jazz Jogja. Tari Pradeksa kemudian memfasilitasi para musisi jazz yang ingin kembali eksis di dalam bidangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal 2007, komunitas ini kembali hadir dalam format jazz baru yang bertajuk Jazz on the Street yang awalnya digelar sebulan sekali di depan Grha Sabha Pramana (GSP), sampai akhirnya dibuat menjadi satu minggu sekali karena animo dari penikmat jazz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir setahun lebih kami menyelanggarakan Jazz on the Street ini, sampai pada akhirnya acara ini pindah ke kafe Big Belly. Kami ingin membuat image bahwa setiap hari Senin adalah malam untuk jazz,” ungkap Bion.&lt;br /&gt;Pindah dari kafe ke kafe itu sudah biasa, akhirnya mereka terakhir bermain di kafe De’Klik dan mulai bangkit lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggu pertama kafe masih sepi, tapi setelah minggu-minggu berikutnya penikmat jazz sudah mulai muncul. Dan di sana malah jadi tempat ngejam berbagai aliran musik. Ada reggae, indie, bahkan rock juga ada,” kata Bion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja memang punya sumber daya manusia yang berlimpah dalam hal kesenian, termasuk juga musik jazz. Itulah yang membuat Jogja tetap nomor satu di banyak festival yang diselenggarakan. Selain itu juga, musisi Jogja ketika bermain musik juga mengandalkan estetika dan juga cara menyampaikan tema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab jazz itu sebagai media. Saya mengutip dari Pak Djaduk bahwa jazz itu hanya sebagai media untuk gerakan budaya melalui musik. Musik jazz adalah musik demokratis tetapi tetap tidak dari akarnya. Jazz tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas saja, tetapi semua orang juga bisa menikmati,” jelasnya.&lt;br /&gt;Dalam acara Ngayogjazz Bantul 2009 yang diselenggarakan pada Sabtu (22/11) lalu di Pasar Seni Gabusan, tujuh grup dari komunitas ini telah melauncing satu album kompilasi. Untuk proyek tahun depan, mereka akan memperkenalkan musik jazz di kampus-kampus di Jogja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendengarkan musik jazz itu harus terbiasa dulu, seperti juga lagu-lagu yang ada belakangan ini. Sehingga kita bisa tahu bagaimana menikmati musik jazz,” pungkasnya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Agung Bayu Kurniawan/153070021&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-6145229356192848299?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/6145229356192848299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/perkembangan-komunitas-jazz-jogja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6145229356192848299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6145229356192848299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/perkembangan-komunitas-jazz-jogja.html' title='Perkembangan Komunitas Jazz Jogja'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-2829278625215746476</id><published>2009-11-23T20:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T20:10:41.519-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Outline Liputan'/><title type='text'>Indept Reporting</title><content type='html'>1. Tema  : &lt;b&gt;Kejawen, Kotagede dan Sendang Kasihan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;2. Latar Belakang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa yang kontemporer adalah Jawa dengan berbagai perubahan kosmologi fisik dan simbolis. Pergeseran makna budaya mempengaruhi dinamika budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konstelasi ruang modern, intelektualitas dan standar orientasi materialistis semakin menonjol. Nilai sosioreligius orang Jawa, terkait berbagai mitos, ajaran teologis dan berbagai kearifan lokal yang ditinggalkan dengan berbagai alasan. Di satu sisi masih ada satu kebudayaan yang resisten, menemukan kontekstualitasnya.&lt;br /&gt;Salah satu kepercayaan orang Jawa tentang hidup tentang kepasrahan hidup, hidup sengsara demi kebahagiaan yang sejati. Orang Jawa rela menjalani hidup susah, namun dekat dengan Tuhan “Manunggaling Kawula Gusti”. Ngrasakke urip kudu urip rumangsa. Di Bantul masih banyak orang-orang yang nglakoni berbagai ritual demi mencari kebahagiaan hidup. Misalnya, pada hari-hari tertentu masih ada orang-orang yang tirakat di di tempat-tempat tertentu yang disakralkan. Uniknya, tirakat tidak hanya dilakukan orang-orang Kejawen, tapi juga orang dari berbagai agama lain, terutama Islam. Contoh tempat yang ramai dikunjungi adalah sendang kasihan dan masjid kota gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di makah letak kontekstualis budaya tirakat? Apakah semata-mata hanya berhubungan dengan nilai-nilai spiritual? Tentu tidak! Budaya tirakat telah menciptakan satu keterkaitan dan ketergantungan antara para pelaku tirakat, masyarakat di sekitar tempat tirakat dan berbagai kepentingan lainnya. Apa sajakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Obyek Observasi: Sendang Kasihan dan Bekas Keraton Mataram I di Kota Gede&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Nara sumber   : Juru Kunci Sendang Kasihan, juru kunci Keraton Kota Gede, Agus Katro  (pengunjung), Pak Joko Ketandan (tokoh Kejawen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Interview guide :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pembagian kerja : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andika:  interviewer, mencari referensi dari berbagai buku, editor&lt;br /&gt;Sigid   :  interviewer, fotografer&lt;br /&gt;Septi   :  interviewer, menyusun berita&lt;br /&gt;Bayu   :  interviewer, menyusun berita &lt;br /&gt;Aderi   :  interviewer, menyusun berita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-2829278625215746476?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/2829278625215746476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/indept-reporting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/2829278625215746476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/2829278625215746476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/indept-reporting.html' title='Indept Reporting'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-955151342362464799</id><published>2009-11-08T21:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T21:07:03.445-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Wimo Film Festival" &lt;br /&gt;Pada hari Rabu sampai hari Jumat, 28 -30 Oktober 2009 &lt;br /&gt;Di Kedai Kebun Forum (KKF), Performance Space, 2nd Floor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIDE EVENT: "Movie Bazaar" &lt;br /&gt;Pada tanggal 28 Oktober - 4 November 2009 &lt;br /&gt;At KKF Gallery, 1st Floor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;rangkaian acara bertajuk wimo film dan wimo video festival ini pada dasar nya adalah kumpulan karya-karya wimo yang intens berkarya dalam media video, Bersama dengan Mes56, sebuah komunitas yang berfokus pada seni visual, terutama fotografi, Wimo dan teman-temannya bekerja secara mandiri. Individu atau kelompok mereka pameran sering memberikan "gangguan" atau baru dan ide-ide segar yang mewarnai seni fotografi di Indonesia. Mes56 berbasis di Yogyakarta.&lt;br /&gt;Pada waktu bersamaan juga terdapat movie bazaar yang juga menjual kompilasi animasi stop motion dan juga sablon kaos dengan kata-kata warkop DKI untuk mengenang group comedian indonesia. Acara tersebut juga mendapat antusiasme dari kalangan remaja-remaja berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;Aderi putra wicaksono 153070330&lt;br /&gt;    &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-955151342362464799?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/955151342362464799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/wimo-film-festival-pada-hari-rabu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/955151342362464799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/955151342362464799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/wimo-film-festival-pada-hari-rabu.html' title=''/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-7534040528851095988</id><published>2009-11-08T18:19:00.001-08:00</published><updated>2009-11-23T20:18:41.858-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Mencari Bakat Sang Penyelamat</title><content type='html'>&lt;b&gt;Bantul,  Portal Kiri&lt;/b&gt; - Minimnya orang – orang terlatih dan berpengalaman dalam bidang rescue membuat  Tim Penyelamat khusus penanganan musibah dan bencana alam kekurangan orang. Perlu aktivitas khusus yang mendorong agar persentase keberadaan orang – orang tersebut meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilatar belakangi evaluasi yang dilakukan oleh Organisasi – oraganisasi Pecinta Alam,terlihat jelas begitu minimnya jumlah orang yang berpotensi dibidang Rescue.Ketua Sekjen Sekretariat Bersama Organisasi Pecinta Alam ( SEKBER OPA ) wilayah Yogyakarta Dangku, Jumat ( 6/11 ) menuturkan, bahwa komponen terbesar yang menyebabkan hal itu bisa terjadi  lebih dikarenakan kurangnya perhatian khusus terhadap eksistensi dari Tim Rescue itu sendiri. Oleh karena itulah Latihan Gabungan ( LATGAB )Water Rescue Yogyakarta diadakan sebagai bukti langkah kongkret yang diambil demi menetralisir pokok permasalahan yang ada. Kegiatan yang dinaungi langsung oleh Badan SAR Daerah ini, bertujuan mencari bibit – bibit orang yang berpotensi dalam hal penyelamatan korban di air, yangmana nantinya akan menjadi suatu bentuk langkah antisipasi dalam menghadapi segala macam kemungkinan musibah atau bahkan bencana alam yang bisa saja terjadi kapan pun, tanpa bisa diprediksi. &lt;br /&gt;LATGAB yang jumlah pesertanya terdiri dari 21 orang dari berbagai OPA di Yogyakarta  ini, memilih Pantai Parangtritis dan Sungai Opak menjadi lokasi kegiatan. Hal itu dikarenakan, pantai Parangtritis pengunjungnya terhitung lumayan banyak dibanding pantai lainnya sehingga potensi rawan korban tengggelam pun banyak. Begitu pula sungai Opak yang luas dan memilki arus tenang ini. Dengan pemilihan lokasi – lokasi tersebut, diasumsikan agar para peserta terbiasa dengan situasi dan kondisi yang nyata dilapangan. Sejatinya rangkaian kegiatan ini sudah dimulai pada tanggal 3 November  dengan pembekalan teori peserta berupa materi ruang, sedangkan materi lapangan diadakan pada tanggal 6 – 8 November, dengan agenda materi  hari pertama berupa latihan membaca arus laut dan ombak, cara penyelamatan korban tenggelam dilaut dan evakuasi korban dimana para peserta diharuskan berenang kurang lebih 100 M dari bibir pantai, guna melatih kemampuan dan kecepatan berenang, selain itu tidak lupa disertakan materi P3K tentunya. Malang tak dapat ditolak, saat hari pertama dilapangan terdapat kendala, yakni hampir tenggelamnya 4 orang peserta, insiden ini sempat menyedot perhatian pengunjung pantai pada saat itu, tetapi keadaan segera bisa dikondisikan. Pada hari kedua, materi hampir serupa dengan hari pertama, namun lokasinya saja yang berbeda, yaitu lokasi kegiatan terpusat di sungai Opak yang terletak di jalan Parangtritis. “ Yang kami harapkan semoga kegiatan seperti ini, tidak hanya sepintas lalu saja, namun masih ada kegiatan – kegiatan  lanjutan lain yang tentu tidak kalah bermanfaat layaknya kegiatan ini”, ujar Ungsu (20) salah seorang peserta yang mencoba mewakili jawaban dari teman – temannya sesama peserta, disela acara penutupan kegiatan LATGAB yang masih berlokasi disekitar wilayah pantai Parangtritis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Septi. Andriani ( 153070378 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-7534040528851095988?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/7534040528851095988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/tugas-uts-straight-news-mencari-bakat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7534040528851095988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7534040528851095988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/tugas-uts-straight-news-mencari-bakat.html' title='Mencari Bakat Sang Penyelamat'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-2484540574804058662</id><published>2009-11-08T18:13:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T19:42:10.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisata dan kuliner'/><title type='text'>Parangendok, Pesona Sunset lewat tebing</title><content type='html'>&lt;b&gt;Apakah anda tahu pantai Parangtritis ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini merupakan sebuah pertanyaan yang retorik jika dilontarkan bagi orang yang mengenal Yogyakarta. Tetapi apakah anda tahu Parangendok ? Belum tentu semua individu yang ditanya mengangguk yakin. Yah..., memang tak banyak yang tahu apa itu Parangendok. Parangendok, sebuah nama yang mungkin tidak asing lagi para Pecinta alam khususnya populer dikalangan para penggila olahraga Panjat tebing di wilayah Yogyakarta, dengan jalur Garuda dan Syamsu Rizalnya yang terkenal hingga ke luar kota ini. Parangendok merupakan nama sebuah desa di sisi Timur Parangtritis, tepatnya kurang lebih 2 KM dari Pantai Parangtritis. Wilayah dengan minim penduduk  yangmana bermata pencaharian sebagai petani dan dengan pesona tebing batuan kapurnya yang menantang disetiap sisi. Memang benar, desa yang mempunyai akses langsung ke Goa Cermei yang merupakan Goa wisata ini, lebih dikenal khalayak lewat wisata alamnya berupa tebing – tebing dengan ketinggian kira – kira 60 – 70 M, dimana tebing – tebing tersebut kerap dimanfaatkan sebagi tempat olahraga panjat tebing, selain tebing Siung didaerah Wonosari, Gunung Kidul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebing yang Oke dengan jalur yang tidak terlalu sulit bagi pemula olahraga panjat tebing, serta medan dan akses yang mudah ditempuh dimana hanya 1,5 jam dari kota Yogyakarta, menjadikan tebing Parangendok sebagai alternatif  lokasi pilihan. Tidak Cuma itu saja, pesona lain yang ditawarkan Parangendok adalah melirik eksotiknya sunset dengan balutan keindahan laut pantai Paris sebagai background dari atas puncak tebing, merupakan sisi keindahan lain yang tentunya tak kalah menarik untuk dinikmati. Padahal, sebelum populer sebagai tempat olahraga panjat tebingnya, tempat ini sempat dibangun landasan untuk olahraga Parhalayang disalah satu sisi puncak tebingnya. Nyatanya, sampai saat ini landasan tersebut menjadi landasan usang, akibat jarang dipergunakan lagi. Hal ini dikarenakan lokasinya yang kurang mendukung, oleh sebab situasi alam, dengan arah angin yang tidak menentu tiap bulannya sehingga menyulitkan dalam manuever Paragrill ( Perangkat dalam olahraga Parhalayang ). Akan tetapi dari landasan tua itulah para pelancong yang hanya berkunjung sekedar mencari angin sore bisa menikmati keindahan sunset dan eloknya relief parangtritis dari sisi lain, yakni dari atas puncak tebing. Paduan harmoni keindahan yang apik, antara angkuhnya tebing, luasnya laut dan lembutnya lembayung senja ufuk barat membuat tempat ini terlihat cantik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini biasa ramai dikunjungi pada hari libur, terutama di akhir pekan. Anda tidak perlu khawatir jika berkunjung tak membawa bekal makanan, sebab disana terdapat warung yang menyajikan santapan sederhana ala wong ndeso. Dimana merupakan satu – satunya warung yang bisa anda temukan disana, Dengan pemilik warung yang akrab di panggil Yuk Mar, sosok yang cukup terkenal dikalangan komunitas pecinta Panjat tebing di Yogyakarta. Anda tertarik berpanjat tebing ria ? Atau sekedar menikmati panorama alam dari puncak tebing ? Atau bahkan keduanya ? Maka jangan ragu memasukkan nama Parangendok ke agenda kunjungan anda di akhir pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh ; Septi Andriani ( 153070378 ).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-2484540574804058662?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/2484540574804058662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/tugas-uts-feature-news.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/2484540574804058662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/2484540574804058662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/tugas-uts-feature-news.html' title='Parangendok, Pesona Sunset lewat tebing'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-3691350570547377743</id><published>2009-11-08T18:08:00.003-08:00</published><updated>2009-11-23T19:34:47.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Antrian Panjang Anak Negeri</title><content type='html'>Ketika mewawancarai salah seorang pendaftar CPNS di wilayah Bantul, Yogyakarta, saya sempat bertanya “ Dizaman sekarang ini, mengapa anda masih saja tertarik untuk menjadi seorang PNS ? “ Sang calon pendaftar, Rizka Handi yang kini bekerja  sebagai tenaga ahli Fisioterapi di salah satu RS Swata di kota Yogyakarta ini mencoba menjawab serius pertanyaan itu. Meski sebenarnya pertanyaan tersebut hanyalah pertanyaan retorik semata yang saya lontarkan untuk mencairkan suasana ditengah gerahnya antrian panjang para pendaftar CPNS.&lt;br /&gt;Sebuah Peluang.&lt;br /&gt;Berdasarkan surat keputusan Bupati Bantul No. 113/ Peg/ CPNS/ 2009 Tanggal 29 September 2009 Tentang tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah ( CPNSD ) Kabupaten Bantul Tahun 2009. Maka Kabupaten Bantul memberikan kesempatan kepada setiap warga negara Indonesia (WNI), yang berminat untuk menjadi CPNSD agar segera mendaftar dengan ketentuan : Tenaga Kependidikan ; 175 orang, Tenaga Kesehatan ; 156 orang, dan Tenaga Teknis 164 orang, dengan waktu pendaftaran dimulai dari tanggal 27 s/d 31 Oktober. Berdasarkan keputusan tersebut, tak pelak mengundang antusiasme warga khususnya di wilayah Yogyakarta untuk buru – buru mendaftarkan diri sebagai peserta CPNS. Tidak hanya wilayah Yogyakarta saja, tetapi euphoria antusiasme warga juga dirasakan dibagian wilayah Indonesia lainnya yang juga digelar kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;Jika dirunut ke beberapa waktu lalu, tidak sedikit pendapat dari berbagai pihak yang mencibir eksistensi seorang PNS, bahkan sampai detik ini pun anggapan – anggapan miring tentang PNS masih sering beredar. “ Buat apa sih jadi PNS ? Gajinya kecil, lama kayanya.“ komentar – komentar sinis dengan nada melecehkan tersebut, bukan suatu hal yang asing ditelinga kita. Pekerjaan yang kurang bergengsi, nampaknya sudah menjadi streotipe dikalangan masyarakat dewasa ini. Herannya, walau pekerjaan selaku PNS dinilai bukan suatu hal yang Wah, akan tetapi tiap kali dibuka pendaftaran CPNS, masih banyak saja orang – orang yang berpartisipasi mendaftar. Dan tampaknya kenyataan ini bertolak belakang sekali dengan komentar – komentar miring yang selama ini muncul kepermukaan. Hal ini lah yang menandakan bahwa masih ada individu – individu yang berfikiran panjang. Nah, mereka – mereka inilah yang punya asumsi bahwa menjadi seorang PNS bukan suatu aib, bahkan sebaliknya bisa menjadi pijakan aman jangka panjang dalam kehidupan bagi seorang manusia Indonesia. Bagaimana tidak ? Walaupun gaji seorang PNS terbilang pas – pasan, paling tidak terdapatnya pensiun untuk jaminan di hari tua, disamping itu, proses pemecatan seorang PNS tidak semudah proses pemecatan seorang pegawai swasta. Bahkan opini yang tersebar bahwa “Meskipun kerja PNS, tetapi masih bisa nyambi.” Dari beberapa faktor keuntungan dari PNS itulah yang memicu minat sejumlah orang untuk mempertimbangkan menjadi CPNS sebagai alternatif lapangan pekerjaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Antrian Panjang &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fenomena seputar pendaftaran CPNS, meskipun hal biasa di negeri kita, tetapi selalu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan, berangkat dari sistem birokrasinya yang bisa berubah – ubah, hingga berbagai kecurangan yang meliputi didalamnya. Di era Indonesia sekarang ini, yang notabenenya cenderung sulit mencari lapangan pekerjaan, mau tidak mau menuntut manusianya untuk tidak banyak memilih dan harus lebih kreatif mencari peluang yang ada. Begitu pula halnya dengan pendaftaran CPNS tahun ini, antusiasme warga terlihat dari panjangnya antrian dibeberapa tempat pendaftaran. Dimana mereka rela antri berjam – jam hanya untuk mendaftarkan dirinya sebagai CPNS, termasuk didalamnya seoranmg ibu – ibu yang antri sembari menggendong anak bayinya. Diantara deretan antrian tersebut, terdapat beberapa pendaftar yang ternyata juga dilebih dari 1 tempat pendaftaran.  Hal ini dilakukan tidak lain hanya demi mendapatkan peluang menjadi seorang PNS yang syah dimata hukum. Rasanya miris sekali melihat fenomena yang ada, anak negeri harus rela mengantri demi kelangsungan hidup dinegerinya sendiri yang diagung – agungkan sebagi negeri yang subur dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Septi Andriani ( 153070378 )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-3691350570547377743?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/3691350570547377743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/tugas-uts-opini-antrian-panjang-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3691350570547377743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3691350570547377743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/tugas-uts-opini-antrian-panjang-anak.html' title='Antrian Panjang Anak Negeri'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-3255794050456736071</id><published>2009-11-08T16:49:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T16:49:00.162-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Apresiasi Karya Seni di Bantul</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:595.3pt 841.9pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Bantul &amp;nbsp;menawarkan beraneka ragam bentuk wisata, mulai dari macam-macam kuliner tradisional, pemandangan, kerajinan sampai wisata sejarah. Semua menjadi kebanggaan warga bantul pada khususnya dan warga masyarakat Yogyakarta pada umumnya. Berbagai prestasipun telah ditorehkan oleh masyarakat Bantul, baik itu prestasi dari event lokal regional, nasional, maupun skala internasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun ditengah kebanggaan tersebut, masih ada sejumlah hasil prestasi rakyat Bantul yang dulu pernah mengukir sejarah di Bantul maupun di Indonesia khususnya dalam bidang karya seni. Entah apa sebabnya, beberaa karya seni yang sempat menorehkan prestasi itu kini bernasib malang. Ada karya seni yang sudah tak terurus, dipenuhi&amp;nbsp; coretan dari tangan-tangan jail, dicuri dan rusak akibat cuaca, bahkan ada yang diinjak injak dijadikan pijakan oleh anak anak untuk mengambil buah talok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Apakah itu bentuk apresiasi pada karya yang telah menorehkan prestasi masyarakat Bantul? Sungguh ironi ketika dulu karya itu merupakan kebanggaan bagi masyarakat Bantul, namun kini keberadaanya telah dimakan oleh zaman. Apakah kita tidak melihat bagaimana begitu banyak keringat yang menetes ketika pembuatan karya seni itu berlangsung. Keringat itu ternyata sudah mulai mengering dan terlupakan sejarahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hingga kini, belum tampak tindakan dari pemerintah setempat untuk mengapresiasi positif prestasi tersebut. Namun sebaiknya mualailah dari kita sendiri yang memulai berapresiasi terhadap prestasi tersebut. Jangan saling menunggu, kalau tidak sekarang, kapan lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;Sigid Kurniawan/153070139&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-3255794050456736071?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/3255794050456736071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/apresiasi-karya-seni-di-bantul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3255794050456736071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3255794050456736071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/apresiasi-karya-seni-di-bantul.html' title='Apresiasi Karya Seni di Bantul'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-5003396412860135518</id><published>2009-11-08T15:28:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T17:48:39.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Mandiri Craft, dalam Keterbatasan Namun Menghasilkan</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:595.3pt 841.9pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/Svd031b6sWI/AAAAAAAAABo/n5zsuOoa4pg/s1600-h/IMG_9550d.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/Svd031b6sWI/AAAAAAAAABo/n5zsuOoa4pg/s320/IMG_9550d.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Mengamati hasil kerajinan di Kabupaten Bantul, rasanya aka kurang jika belum mengunjungi Mandiri Craft yang terletak di Jalan Parangtritis KM 6,5 cabean Sewon Bantul Yogyakarta. &amp;nbsp;Tempat tersebut merupakan sentra pembuatan mainan anak serta pembuatan produk kerajinan yang berasal dari bahan dasar kayu. Mandiri Craft merupakan salah satu dari sekian banyak usaha yang bergerak dalam bidang perajinan di kawasan Bantul. Dan Mandiri Craft ini ternyata hasil dari produksinya sudah ekspor ke Negara-negara eropa seperti Australia, Jerman dan beberapa negara dikawasan Asia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jika kita mengunjungi tempat Mandiri Craft ini, mungkin kita akan terkejut melihat para pekerja dari usaha produksi kerajinan mainan anak tersebut. Semua yang bekerja di Mandiri Craft merupakan masyarakat yang tergolong difabel. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang menderita difabel sejak lahir, namun beberapa ada yang difabel karena kecelakaan dan bencana alam. Mengingat dahulu pada tanggal 27 Mei 2006, Yogyakarta sempat diguncang gempa sebesar 5,9 Sacala Richter. Gempa itu membuat sebagian orang kehilangan nyawa dan banyak yang menderita difabel. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tarjono Slamet selaku Manager Mandiri Craft menuturkan,” Karyawan kami sekarang berjumlah 30 orang, yang semuanya merupakan masyarakat yang tergolong difabel (7/11). Tarjono Slamet yang akrab dipanggil Slamet itu menuturkan bahwa usaha tersebut&amp;nbsp; berdiri sejak tahun&amp;nbsp; 2003 dan masih bertahan sampai sekarang. Para pekerjanya berasal dari daerah Bantul sendiri dan beberapa diantaranya berasal dari Wonosari, Sragen, Banyuwangi, Pekalongan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Sebelum gempa besar itu mengguncang Bantul, usaha kami bertempat di Gatak Sewon Bantul, utara Pasar Seni Gabusan. Setelah gempa kami menempati lokasi usaha baru di daerah Cabean ini dengan gedung yang lebih memadai. Dan gedungnya yang kami tempati sekarang merupakan seluruhnya bantuan dari Jepang, baik itu bangunan, alat-alat kantor seperti meja, almari, computer, dan alat-alat berat lainnya mencakup mesin-mesin produksi, semua berasal dari bantuan Jepang”, ucap Slamet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Lokasi usaha yang ada di Gatak juga masih ada sampai sekarang, namun disana hanya untuk finishing prodaknya saja. Berbeda dengan yang ada dicabean ini, disini kegiatannya merupakan kegiatan produksi dan showroom. Slamet ingin memberikan kesempatan bagi teman-teman para penyandang cacat untuk berkreasi, bermanfaat bagi orang lain, dan bisa mandiri dalam kehidupan mereka. &amp;nbsp;5 tahun seorang pekerja &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ngatijo 40 tahun, seorang pekerja yang sudah 5 tahun bekerja di Mandiri Craft menuturkan ,”Disini itu selain bisa untuk mencari nafkah, juga bisa untuk menambah teman dan memberikan rasa kemandirian yang tinggi diantara teman-teman yang difabel. Jadi ketergantungan kami akan bantuan orang lain menjadi berkurang karena kami lebih mandiri”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada tahun ini, Mandiri Craft telah mengembangkan pasar lokal di Indonesia. Yaitu di kawasan Surabaya, Bali, Jakarta, dan Yogyakarta sendiri. Dan ternyata mendapat sambutan yang baik dipasar lokal Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sigid Kurniawan/153070139  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-5003396412860135518?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/5003396412860135518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/mandiri-craft-keterbatsan-namun-mampu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5003396412860135518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5003396412860135518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/mandiri-craft-keterbatsan-namun-mampu.html' title='Mandiri Craft, dalam Keterbatasan Namun Menghasilkan'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/Svd031b6sWI/AAAAAAAAABo/n5zsuOoa4pg/s72-c/IMG_9550d.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-5662818323148478003</id><published>2009-11-08T14:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T17:25:28.474-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Pameran hasil Agrowisata digelar di Seputaran Lapangan Paseban Bantul</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SvdvdTFXAzI/AAAAAAAAABg/Jq7g8lSCqNY/s1600-h/IMG_9949das.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SvdvdTFXAzI/AAAAAAAAABg/Jq7g8lSCqNY/s200/IMG_9949das.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csigid%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}@font-face	{font-family:Calibri;	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;	mso-font-charset:0;	mso-generic-font-family:swiss;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin-top:0cm;	margin-right:0cm;	margin-bottom:10.0pt;	margin-left:0cm;	line-height:115%;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:11.0pt;	font-family:"Calibri","sans-serif";	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault	{mso-style-type:export-only;	mso-default-props:yes;	mso-ascii-font-family:Calibri;	mso-ascii-theme-font:minor-latin;	mso-fareast-font-family:Calibri;	mso-fareast-theme-font:minor-latin;	mso-hansi-font-family:Calibri;	mso-hansi-theme-font:minor-latin;	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;	mso-fareast-language:EN-US;}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:595.3pt 841.9pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;b&gt;Bantul-Portalkiri&lt;/b&gt; . Dalam rangka memperingati sumpah pemuda pameran hasil agrowisata digelar di lapangan Paseban Bantul&amp;nbsp; mulai tanggal 6 sampai 9 November.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pameran tersebut diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat daerah Bantul. &amp;nbsp;Kegiatanitu &amp;nbsp;rupanya merupakan hasil dari pelatihan kepada beberapa elemen masyarakat di daerah bantul oleh pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Pertanian Kabupaten Bantul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ya pameran ini sebetulnya merupakan tujuan akhir pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bantul. Dan pameran inilah yang merupakan hasil akhir dari pelatihan tersebut, apakah hasil pelatihan kita berhasil atau tidak”, ucap Yuniarti selaku peserta pameran yang berasal dari kelompok UP FMA Trirenggo (8/11).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam pameran tersebut, dijual beraneka makanan hasil agrowisata di daerah Bantul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ditanya manfaat dari pameran ini, Yuniarti menambahkan “ Pameran ini sangat bermanfaat bagi kami, selain mengenalkan makanan hasil agrowisata lokal bantul, kita juga merasa lebih mandiri dan percaya diri dalam membuat makanan lokal yang diaharapkan mampu menembus pasar nasional. Selain itu, kegiatan seperti ini juga memotivasi para ibu-ibu rumah tangga untuk bertindak melakukan suatu hal yang positif dari pada diam dirumah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Pada tahun 2015 mendaatang, &amp;nbsp;pemerintah Kabupaten Bantul akan mengangkat makanan tradisional &amp;nbsp;di masyarakat menjadi sebuah kekayaan yang dimiliki oleh Kabupaten Bantul” tambah Yuniarti disela-sela kesibukannnya menjual makanan hasil pelatihannya kepada sejumlah konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;Sigid Kurniawan/153070139&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-5662818323148478003?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/5662818323148478003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/pameran-hasil-agrowisata-digelar-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5662818323148478003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5662818323148478003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/pameran-hasil-agrowisata-digelar-di.html' title='Pameran hasil Agrowisata digelar di Seputaran Lapangan Paseban Bantul'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SvdvdTFXAzI/AAAAAAAAABg/Jq7g8lSCqNY/s72-c/IMG_9949das.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-3039450765494635384</id><published>2009-11-08T08:01:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T08:05:57.642-08:00</updated><title type='text'>PILAR VISUAL ART EXHIBITION “LOCALWARMING”</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: white;"&gt;&lt;span style="background-color: #444444;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: #444444;"&gt;Perkembangan dunia seni memang tidak ada habisnya. Hal ini terbukti dengan adanya exhibisi karya seni yang bertajuk “Localwarming”. Acara yang diselanggarakan oleh komunitas yang menamakan dirinya PILAR ini mengadakan acara mulai dari 3-11 november yang akan datang. Acara yang diselanggarakan di Bentara Budaya Ygyakarta ini memamerkan 4 patung, 14 lukisan dan 2 instalasi. Karya yang paling menarik adalah sebuah karya teks culture yang berbunyi HEAVEN, yang menarik adalah teks ini di tuliskan dengan warna hitam dengan sepasang burung bangkai memakan sebagian dari tulisan itu. Menurut seniman yang membuat Putu Aan Juniartha “ sapa yang bilang surga itu harus berwarna putih”. Seniman menggunakan warna hitam sebagai makna dari tanda Tanya yang dia alami selama ini. Melalui permainan visual dia berharapn dapat menemukan jawaban atas kegelisahan dan tanda Tanya yang besar seperti apa surga itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background-color: #444444; color: white;"&gt;.( G. Agung Bayu Kurniawan 153070021)&lt;/span&gt;&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-3039450765494635384?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/3039450765494635384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/pilar-visual-art-exhibition.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3039450765494635384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/3039450765494635384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/pilar-visual-art-exhibition.html' title='PILAR VISUAL ART EXHIBITION “LOCALWARMING”'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-4045339825546825494</id><published>2009-11-08T07:56:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T15:44:29.689-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengintip Yogya'/><title type='text'>OPEN HOUSE GEDUNG AGUNG</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Jika kita akan berkunjung ke &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; sepertinya kita harus menambahkan satu lagi peta tujuan wisata kita. Mulai tahun ini Gedung Istana Negara atau yang lebih kita kenal dengan Gedung Agung&amp;nbsp; mulai di buka untuk umum. Tetapi kita harus berombongan untuk dapat masuk ke gedung ini. Untuk pertama kalinya gedung ini di buka untuk umum pada jumat 6 november lalu yang berakhir pada hari ini 8 november. Gedung ini di buka untuk umum sebgai rangkaian acara Jogja Malioboro Carnival, yang juga berakhir pada hari ini juga. Walau baru dibuka satu kali pada tahun ini, rencananya akan dijadikan sebagai agenda tahunan. Tapi sayangnya yang baru bisa diterima untuk berkunjung digedung ini adalah rombongan dari lembaga, komunitas, yang jumlahnya minimal 50 orang, tutur Suyaka (petugas istana red.). Untuk paket tour istana ini adalah, pertama dijelaskan tentang sejarah gedung yang dibangun pada tahun 1832 ini. Ruang pertama yang diperkenalkan adalah Ruang Garuda, ruang ini biasa digunakan untuk rapat cabinet yang di awali pada masa jabatan Presiden Soekarno. Selajutnya adalah ruangan yang terletak di sebelah kanan dari Ruang Garuda adalah ruang Sudirman, dinamakan demikian karena ruang ini dulunya tempat dimana Sudirman meminta izin untuk berperang kepada Presiden. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ruang Diponegoro yang terletak di sebelah Kiri ruang utama berfungsi sebagai ruang pertemuan empat mata dan sebagi transit tamu Negara yang sedang berkunjung. Selanjutnya pengunjung diajak masuk lebih dalam menuju ruang makan VVIP yang terletak di belakang ruang utama, ruangan ini digunakan untuk jamuan makan yang undangannya langsung dari presiden. Karena sangat privat jumlah kursi yang ada di ruang makan ini pun disesuiakan dengan tamu yang akan berkunjung, jika ada yang batal hadir jumlah kursi akan dikurangi, dan yang menarik lagi adalah dalam ruangan ini suami istri tidak dapat duduk bersebelahan harus selang seling dengan tamu yang lain. Makanan yang diajikan pun harus melalui berbagai pemeriksaan dari dinas POM daerah, dan pasukan pengaman presiden sendiri. Lebih kedalam lagi kita akan melihat ruang kesenian, ruang ini berfungsi sebagai tempat menjamu tamu melalui berbagai pertunjukan kesenian. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Disebelah kiri dari ruang kesenian ini adalah ruang sawo jajar yang digunakan sebagai tempat menginap tamu-tamu kenegaraan. Sebelah kanan ruang dari ruang kesenian kita akan melihat wisma Bumi Retawu yang digunakan sebagai tempat menginap paspampres, dokter istana dan sebagainya. Tour ni ditutup dengan adanya penjual berbagai macam pernak-penik istana. Antusiame warga sangat terlihat, walaupun tidak banyak warga yang tau akan event ini sehingga warga yang berkunjungpun tidak begitu banyak.&lt;i&gt;(G. Agung Bayu Kurniawan 153070021)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-4045339825546825494?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/4045339825546825494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/open-house-gedung-agung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/4045339825546825494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/4045339825546825494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/open-house-gedung-agung.html' title='OPEN HOUSE GEDUNG AGUNG'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-74477932655919974</id><published>2009-11-08T07:53:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T15:41:21.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='opini'/><title type='text'>Belajar dari Puntadewa dan Werkudara</title><content type='html'>Pemanasan global karena kesalahan-kesalahan kecil yang berakumulasi. Tapi sangat mungkin satu kesalahan atau kebenaran kecil akan mengubah sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wacana global mengenai global warming, diterangkan tentang ancaman semakin rapuhnya dunia ini. Dunia fisik dan dunia simbolis. Dunia fisik di sini adalah bumi, sedangkan dunia simbolis menyangkut segala aspek kehidupan manusia dengan segala ornamen dan propertinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut logika dalam wacana global warming, diterangkan mengenai ancaman melelehnya kutub utara, bocornya lapisan ozon, cuaca tidak menentu dan sebagainya merupakan akibat kesalahan perseorangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa daerah di Jawa, sampai hari ini masih dipercaya tentang mitos, bahwa seseorang yang secara personal melakukan kesalahan yang menentang atau melanggar norma yang disakralkan (tabu) dapat membawa dampak yang bersifat kolektif. Orang jawa percaya bahwa antara jagad cilik dan jagad gede berikatan dan saling mempengaruhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang paling sakti dan sejati dalam wayang, bahkan Dewa Sekalipun. “Kenapa jimat kalimasada bisa sirna Kakang Semar?” Tanya Puntadewa kepada Semar. Semar menjawab “Kamu adalah seorang satria berdarah putih, yang adil da bijaksana, tapi kamu telah melakukan satu kesalahan fatal. Kamu berjudi dan mempertaruhkan istrimu dan itulah pangkal semua bencana, yang mengakibatkan Kurukhsetra berdarah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu petikan kisah Mahabarata. Ketika Puntadewa sudah memerintah Astina Pura dan Indrapastra usai Bratayudha. Jimat kalimasada yang merupakan pusaka sakti andalan Puntadewa tiba-tiba hilang, karena perbuatan tercela yang dilakukannya. Judi dadu yang menjadi pangkal terjadinya perang Bratayudha. Perang besar yang mengakibatkan punahnya wangsa kuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Werkudara dengan kesetiaan yang penuh kepada Durna mencari kayu gung susuhing angin dan tirta kamandanu. Di tengah samudera bertemulah dia dengan Dewaruci, sosoknya kecil, hanya sebesar ibu jari Werkudara. Werkudara diminta oleh Dewa Ruci untuk masuk ke telinganya. Mula-mula werkudara menolak “mana mungkin badanku yang sebesar ini masuk ke telingamu yang begitu kecil”.Dewaruci menjawab “jangankan kau, jagad seisinya dapat kumasukkan ke telingaku”. Akhirnya Werkudara masuk ke dalam telinga Dewaruci dan kembali melihat sosok Dewaruci . Werkudara yang biasanya tidak bisa berbicara dengan bahasa halus bahkan kepada Dewa, namun saat itu untuk pertama kali Werkudara berbicara dengan bahasa halus. Di sanalah Werkudara menemukan ilmu yang sejati. Ilmu nganti kawruh yang penuh dengan kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah dunia sungsang, dunia bolak-balik. Kecil di dalam besar, besar di dalam kecil. Kadang seringkali kita terjebak dengan hal-hal dangkal dan tampak sepintas mata. Masih banyak hal-hal yang tidak bisa dinilai hanya dengan pengamatan luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata terlambat untuk mengubah hidup dan kehidupan dengan cara apapun untuk menjadi yang lebih baik. Siapakah yang akan kita contoh. Puntadewakah? Werkudarakah? Ataukah sosok siapakah?Puntadewa yang bijaksana kehilangan jimat kalimasada, Werkudara yang brangasan mendapat ilmu yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDIKA ANANDA/153070083&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-74477932655919974?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/74477932655919974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/belajar-dari-puntadewa-dan-werkudara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/74477932655919974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/74477932655919974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/belajar-dari-puntadewa-dan-werkudara.html' title='Belajar dari Puntadewa dan Werkudara'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-7953841651014867083</id><published>2009-11-08T07:52:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T15:44:04.959-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Studiklub Teater Bandung di usia 50 tahun</title><content type='html'>&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 12" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMe%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMe%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMe%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face	{font-family:"Cambria Math";	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;	mso-font-charset:1;	mso-generic-font-family:roman;	mso-font-format:other;	mso-font-pitch:variable;	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-unhide:no;	mso-style-qformat:yes;	mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman","serif";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoPapDefault	{mso-style-type:export-only;	margin-bottom:10.0pt;	line-height:115%;}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;	mso-header-margin:36.0pt;	mso-footer-margin:36.0pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dalam rangka memperingati 50 tahun Studi Teaterklub Bandung (STB), diluncurkan kumpulan esai yang berjudul “Melakoni Teater”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Rabu pekan lalu (26/10/2009) Digelar acara bedah buku “Melakoni Teater” dan pementasan monolog “Nyanyian Angsa” oleh Studi Teaterklub Bandung. Acara digelar di teater arena Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dengan pembicara DR.Yudi Aryani M, Hum. Tampak juga beberapa seniman dan komunitas teater yang hadir, seperti Wani Darmawan, Ibed Surgana Yuga, komunitas Teku, Lembaga Teater Perempuan, Saturday Acting Club, dll yang hadir pada peluncuran buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Buku “Melakoni Teater” merupakan kumpulan esai dari para pelaku, penulis dan kritikus teater Indonesia. Beberapa di antaranya Putu Wijaya, Putu Satria Kusuma, Beni Yohanes, Halim HD dan sejumlah nama lain yang tidak asing di jagad teater kontemporer Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sebagai kelompok teater tertua di Indonesia STB telah melakukan proses selama lima puluh tahun dengn lebih dari ratusan karya telah dipentaskan. STB sempat mengalami vakum sepeninggal Suyatna Anirun, pendiri STB. Namun beberapa muridnya seperti Wawan Sofwan, Muhamad Sunjaya, Ags. Arya Sanjaya akhirnya kembali turun gelanggang untuk melanjutkan perjuangan STB hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tak bisa dipungkiri betapa penting kehadiran STB dalam geliat teater Bandung dan teaeter Indonesia hari ini. Di Bandung sendiri, ketika dirunut secara silsilah hulu kreatif perteaterannya bermula dari STB dan Suyatna Anirun. Coba kita lihat Komunitas Payung Hitam, Laskar Panggung, Teater Republik, Creamer Box, Actor Unlimited dan sejumlah kelompok teater lainnya, dulunya adalah orang-orang STB yang kini mendirikan kelompok teaternya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&amp;nbsp;“Dalam buku ini akan kita temukan siapakah sebenarnya STB dan bagaimankah perannya dalam konstelasi teater modern Indonesia” terang DR.Yudi Aryani M.Hum. Yudi Aryani menjadi salah satu saksi bagaimana proses kreatif yang pernah dilakukan STB ketika ia terlibat aktif dalam salah satu proses STB. Menurutnya STB memang tak bisa dipisahkan dengan sosok Suyatna Anirun. Tampak sekali perbedaan capaian estetis dan pola kerja STB saat ini bila dibandingkan dengan masa Suyatna. STB identik dengan realisme “gaya Suyatna” yang cenderung mengarah ke realisme konvensional gaya Eropa, dengan pola akting Stanislavsky. Salah satu garapan Suyatna yang paling mengagumkan adalah King Lear. Pada saat itu Suyatna menyutradarai sekaligus bermain sebagai Lear, Si Raja Tua. Sayangnya suasana diskusi yang terkesan terlalu formal dan normatif membuat audiens tidak responsif’ ungkap Nanang Arizona, salah satu peserta pada celah diskusi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Usai acara diskusi dipentaskan sebuah monolog dengan lakon saduran “Nyanyian Angsa” karya pengarang Rusia Anton Chekov. Dalam lakon tersebut diceritakan tentang aktor tua yang dalam keadaan mabuk mendatangai panggung tempat biasanya ia berlatih dan pentas. Lelaki itu bercerita ketika masih muda dengan penuh semangat dan gairah ia mainkan tokoh-tokoh penting dan naskah-naskah besar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bila direnungkan lebih jauh, lakon monolog yang dimainkan bisa menjadi satu sindiran personifikatif. Pada kenyataannya, hari ini berteater menjadi pilihan dengan konsekuensi yang begitu sulit dan berat. Berbeda dengan dunia senirupa, menulis, fotografi dan tari. Para pelakunya bisa hidup dari sana. Sebaliknya tidak mungkin pelaku teater hanya menggantungkan hidupnya pada teater semata. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bengkel Teater Rendra dan Teater Mandiri bisa bertahan sampai hari ini karena subsidi silang dari honor menulis Rendra dan Putu Wijaya. Bagaimanakah nasib Rendra ketika tua?Dilupakan. Coba kita lihat juga teater koma yang begitu besar dengan manajemen produksi yang sangat professional sekalipun belum mampu menghidupi para aktornya ketika produksi tidak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Seperti nasib si aktor tua dalam naskah saduran ‘Nyanyian Angsa” yang dimainkan STB pekan lalu. “Sungguh baru kali ini aku melihat panggung dalam keaadaan kosong. Tak nampak apapun selain lubang pembisik, sementara aku tak bisa melihat bangku penonton , kecuali kursi kosong yang terdepan”.Demikian salah satu petikan dialog dalam naskah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Selamat ulang tahun untuk Studiklub Teater Bandung. Lima&amp;nbsp; puluh tahun, usia emas untuk sebuah kelompok teater.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;ANDIKA ANANDA/153070083&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-7953841651014867083?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/7953841651014867083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/studiklub-teater-bandung-di-usia-50.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7953841651014867083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7953841651014867083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/studiklub-teater-bandung-di-usia-50.html' title='Studiklub Teater Bandung di usia 50 tahun'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-7754749818522485388</id><published>2009-11-08T07:49:00.001-08:00</published><updated>2009-11-08T15:43:30.563-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Pentas Ludruk “Geger Tegal Banteng”</title><content type='html'>“Tegal  Banteng jibrat getih udan tangis” demikian kalimat terakhir Delan sebelum mati.&lt;br /&gt;Selasa (3/10/09) digelar sebuah pentas ludruk oleh kelompok ludruk sinar jaya (SJ) pimpinan Cak Ganes. Setelah hampir lima tahun vakum, pada pentas kali ini SJ membawakan lakon yang berjudul Geger Tegal Banteng. Sebuah lakon yang diangkat dari kisah nyata dengan latar belakang masa penjajahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lakon tersebut diceritakan tentang Pak Lurah yang membeli sejumlah tanah warga dengan harga murah dengan alasan untuk dibangun pondok pesantren. Pada kenyataannya ternyata Pak Lurah adalah Suruhan dari Gopermen Belanda. Yang diberi tugas untuk membangun pabrik tepung. Delan, Jawara dari Tegal Banteng yang mendengar rencana busuk pak Lurah tidak terima. Semedi yang seharusnya ditempuh empat puluh hari di watu sewu untuk memperoleh ilmu kedigdayaan ditinggalkan. Akhirnya terjadilan pertumpahan darah antara kelompok pro lurah dan kelompok kontra lurah yang dipimpin oleh Delan yang tidak terima dengan kesewenang-wenangan Lurah. Semuanya mati tanpa terkecuali Delan dan Pak Lurah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada adegan terakhir muncullah Buyut Simpen dan Mbah Kasan Tajab, sepasang suami istri yang dituakan di Tegal Banteng. Buyut Simpen menangis tersedu melihat Delan tewas bersimbah darah. Mbah Kasan Tajab berusaha menenangkan Buyut Simpen sambil mengatakan “ Iki wis dadi opo kang ginaris dening Gusti Allah, Tegal Banteng jibrat getih udan tangis” (ini sudah digariskan Tuhan, Tegal banteng penuh darah dan hujan air mata).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas malam itu berlangsung kurang lebih  3 jam tersebut cukup menghibur penonton dan penuh dengan pesan. Tentang bagaimana kebenaran tidak selalu menang, demikian pula dengan kejahatan. Pada pementasan malam itu Delan sebagai symbol kebaikan dan Pak Lurah, sebagai simbol kejahatan sama-sama mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suharyoso M.Sn, salah satu dosen ISI Yogyakarta, walaupun dimainkan oleh anak-anak muda yang awam dengan dunia ludruk, namun tidak mengecewakan, bahkan sangat menghibur. Demikian pula disampaikan oleh Tohir, salah satu tokoh ludruk Surabaya yang kebetulan menyempatkan datang pada malam itu. “anak jaman sekarang kebanyakan malu, jangankan main ludruk, nonton saja sudah nggak mau. Saya bangga kepada kawan-kawan muda yang mau nguri-uri kebudayaan kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Cak Ganes, lakon Geger Tegal Banteng akan dipentaskan kembali di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 22 November 2009 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANDIKA ANANDA/153070083&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-7754749818522485388?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/7754749818522485388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/pentas-ludruk-geger-tegal-banteng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7754749818522485388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7754749818522485388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/pentas-ludruk-geger-tegal-banteng.html' title='Pentas Ludruk “Geger Tegal Banteng”'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-99060978029419506</id><published>2009-11-08T07:46:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T15:45:15.362-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengintip Yogya'/><title type='text'>Friendship through culture of india</title><content type='html'>Indonesia dan India tidak hanya mempunyai kesamaan dalam hal adapt istiadat, kepercayaan, dan kebudayaan, namun juga memiliki banyak kesamaan dalam dunia kesenian. Apakah itu ditampilkan melalui kekayaan warna dan desain busana yang digunakan oleh para penari, maupun cerita Ramayana dan Mahabharata yang melatarbelakangi episode-episode tarian, juga gerakan-gerakan tarian yang dibawakan, sampai ke instrument musik yang digunakan, keragaman dari kedua Negara ini paling baik diekspresikan melalui berbagai bentuk dan metode kesenian. &lt;br /&gt;Penampilan dari keempat grup yang didatangkan langsung dari India di Taman Budaya, Yogya, pada tanggal 3 november 2009 dalam acara “Festival of India” membuktikan poin diatas secara tepat.&lt;br /&gt;Acara ini merupakan usaha yang sangat membanggakan bagi kedutaan India dan pusat kebudayaan India, jawaharial Nehru yang bertempat di Jakarta. &lt;br /&gt;Acara ini di gelar di jogja dan bali karena kedua kota ini memiliki suasana yang hamper sam dengan di India. Dalam acara ini pula M K Singh, yang menjabat sebagai director embassy of India di Jakarta berpendapat bahwa pertunjukan Ramayana dan Mahabharata di Indonesia masih sangat utuh tidak seperti yang ada di India yang sudah dipotong-potong. Selain itu juga dr. ida Rohana sebagai dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM “India sama dengan Indonesia disana sangat multiculture yang sama dengan Indonesia”. Acara yang mengambil tema “friendship through culture ini menarik banyak seklai penonton yang sudah mulai memadati tempat pertunjukan sejak pkl 19.00. ada 2 pertunjukan yang disajikan malam itu, yaitu Siddhi Dhamal yang diaminkan sekelompok orang menggunakan alat musik dan tarian sacral sebagai wujud persembahan bagi dewa. Selain itu juga disajikan tarian bernuansa teatrikal yang berjudul kartaveeryrjuna kalaga, dalam tari ini diceritakan sepasang raja dan ratu yang tidak juga dikaruniai anak, dan pada suatunketika dia dikaruniai anak tapi tanpa memopunyai tangan, tapi dengan berkat seorang guru dia mempunyai seibu tangan yang mempunyai kekuatan yang sangat besar.&lt;br /&gt;Pertujuntukan diakhiri oleh Siddi Dhamal.(G. Agung Bayu Kurniawan, 153070021)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-99060978029419506?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/99060978029419506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/friendship-through-culture-of-india.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/99060978029419506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/99060978029419506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/11/friendship-through-culture-of-india.html' title='Friendship through culture of india'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-5573951077362169767</id><published>2009-10-25T20:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T20:27:35.605-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Setelah 2 Bulan istirahat, Jagongan Wagen Kembali Hadir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUXIFGgUDI/AAAAAAAAABE/l7M1xQumhpw/s1600-h/IMG_9074.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUXIFGgUDI/AAAAAAAAABE/l7M1xQumhpw/s200/IMG_9074.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396745156049260594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bantul. Portalkiri &lt;/span&gt;– Setelah 2 bulan tak digelar karena Idul Fitri, Jagongan Wagen kembali hadir menyemarakkan seni pertunjukkan seni di Yogyakarta. Acara Wagen kali ini mengambil tema Dance Energy  yang digelar di Padepokan Bagong Kusudiardja, Kembaran, Kasihan Bantul Sabtu (24/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara seni pertunjukkan tersebut menampilkan 2 sesu pertunjukkan. Sesi yang pertama diisi oleh teatrikal yang dikoreograferi oleh Satriyo Ayodya.  Dalam dialog sebelum pementasan, Satriyo Ayodya menerangkan bahwa pada kesempatan kali ini mereka mengakat kesenian-kesenian daerah yang sering dilupakan oleh masyarakat. Serta adanya pengkotak-kotakan budaya atau seni yang masih menjadi kegelisahan bagi Satriyo Ayodya dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi kedua yaitu dari senior Padepokan Bagong Kusudiardjo, Sutopo Tedjo Baskoro. Koreografernya menampilkan adopsi dari sebuah tari tradisional Jawa yang diangkat menjadi seni yang lebih kontemporer. Yang menarik dari hasil koreografer Sutopo Tedjo Baskoro ini adalah para penarinya tidak ada yang berdiri, cuma sebatas duduk, jongkok, dan merebah. Mereka bereksplorasi tubuh dengan kondisi-kondisi seperti itu.&lt;br /&gt;Iskandar (21) salah seorang penonton setia Jagonan Wagen menuturkan, “Jagongan wagen kali ini benar-benar menarik, sesuai tema Dance Energy kali ini”. “Walau 2 bulan kemarin Jagongan Wagen tidak digelar, namun acara kali ini mampu mengobati rasa kangen saya”, tambah Iskandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tidak dipungut biaya, pihak panitia juga menyediakan minuman gratis bagi para pengunjung acara tersebut. Jagongan Wagen telah menjadi agenda bulanan di Yayasan Padepokan Bagong Kusudiardja yang mencoba melestarikan budaya serta menampilkan seni kontemporer pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sigid kurniawan/ 153070139&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-5573951077362169767?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/5573951077362169767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/setelah-2-bulan-istirahat-jagongan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5573951077362169767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5573951077362169767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/setelah-2-bulan-istirahat-jagongan.html' title='Setelah 2 Bulan istirahat, Jagongan Wagen Kembali Hadir'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUXIFGgUDI/AAAAAAAAABE/l7M1xQumhpw/s72-c/IMG_9074.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-7561681460172917867</id><published>2009-10-25T18:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T23:23:00.935-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Komunitas Teater Sego Gurih Kirim Do’a</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bantul. Portalkiri &lt;/span&gt;–Sabtu pekan lalu digelar sebuah pementasan teater berjudul “KUP” oleh Teater Sego Gurih di desa Tembi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seperti  biasanya, pada pementasan kali ini KUP masih dimainkan dengan menggunakan gaya dialog berbahasa Jawa. Pada pentas kali ini Sego Gurih tampil dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya orang tua salah satu kawan Sego Gurih.“Ya, kan sekali-sekali kirim do’a itu pakai pentas teater, biar lebih kontemporer hahaha”, kata Ibnu Gundul, sutradara Teater Sego Gurih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, penulis naskah Wahyu Daksiraga mencoba mengangkat persoalan masyarakat pinggiran. Di mana diceritakan tentang konflik di dalam sebuah kampung karena adu domba salah satu warga. Uniknya adu domba tersebut dipicu oleh masalah kotoran manusia yang dibuang sembarangan di depan sebuah WC umum. Semua orang saling menuduh, mulai dari preman kampung, tetua kampung hingga anak-anak terlibat konflik tersebut.Sampai akhir pertunjukan konflik masih terus terjadi. Bahkan Wahid si preman kampung masih sibuk mencari si pembuang kotoran manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “KUP” tersebut penulis naskah hendak berpesan tentang pentingnya kebersamaan. Terkadang hanya karena hal yang sangat sepele orang bisa berkorban apa saja, bahkan nyawa bisa melayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas yang disajikan secara komedi ini sangat menghibur penonton. Derai tawa seakan tak berhenti selama pertunjukan berlangsung. Permainan terasa ringan dan cair, bahkan interaksi yang terjalin antara penonton dan permainan sangat terjalin dengan baik. Sayangnya pengaturan komposisi dan pemblokingan tidak digarap maksimal, sehingga banyak bagian pementasan yang tidak bisa dinikmati maksimal dari sudut pandang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri kehadiran Teater Sego Gurih cukup membawa angina segar bagi iklim perteateran di Yogyakarta. Bila kita tengok mainstream teater sekarang yang berkutat pada wilayah tubuh yang berangkat dari perbendaharaan teater tubuh Eropa.. Sebaliknya sego gurih mereproduksi kembali spirit teater tradisi Jawa pada wilayah kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andika Ananda/153070083&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-7561681460172917867?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/7561681460172917867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/komunitas-eater-sego-kirim-doa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7561681460172917867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/7561681460172917867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/komunitas-eater-sego-kirim-doa.html' title='Komunitas Teater Sego Gurih Kirim Do’a'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-6979155820136230811</id><published>2009-10-25T13:38:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T23:23:32.136-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil dan Prestasi'/><title type='text'>Raudal Tanjung Banua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUeD7aOBRI/AAAAAAAAABM/1_UamSyrNz0/s1600-h/pic_VJazRAaWVC_2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUeD7aOBRI/AAAAAAAAABM/1_UamSyrNz0/s200/pic_VJazRAaWVC_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396752781309510930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAndika%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: left;" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bantul. Portalkiri &lt;/span&gt;–Raudal Tanjung Banua, salah satu redaktur Jurnal Selarong-Kabupaten Bantul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pria yang hingga kini menetap di Dusun Mirisawit-Sewon ini&lt;/span&gt; lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian &lt;i&gt;Semangat &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Haluan,&lt;/i&gt; Padang, untuk akhirnya memutuskan merantau ke Bali, dan bergabung dengan Sanggar Minum Kopi serta intens belajar dengan penyair Umbu Landu Paranggi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Tahun 1997 pindah ke Yogyakarta, masuk Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, mendirikan Komunitas Rumahlebah dan AKAR Indonesia—yang menerbitkan &lt;i&gt;Jurnal Cerpen Indonesia&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Karya-karyanya yang berupa cerpen, puisi dan esei dipublikasikan di sejumlah media terbitan berbagai &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Memperoleh sejumlah penghargaan dan pemenang lomba, di antaranya Purbacaraka Award dari Faksas Udayana (1996), Margarana Award (1996), penghargaan Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisinya “Pengakuan Si Malin Kundang” (2004) dan Anuegrah Sastra Horison (2005) untuk cerpennya “Cerobong Tua Terus Mendera”.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Bukunya yang telah terbit, &lt;i&gt;Pulau Cinta di Peta Buta&lt;/i&gt; (Jendela, 2003, cerpen), &lt;i&gt;Ziarah bagi yang Hidup&lt;/i&gt; (Mahatari, 2004, cerpen), &lt;i&gt;Parang Tak Berulu&lt;/i&gt; (Gramedia Pustaka Utama, 2005, cerpen) dan &lt;i&gt;Gugusan Mata Ibu &lt;/i&gt;(Bentang Pustaka, 2005, puisi)—keduanya masuk final Khatulistiwa Literary Award 2005 untuk kategori prosa dan puisi. &lt;i&gt;Gugusan Mata Ibu&lt;/i&gt; juga memperoleh Anugerah Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) V/2007 di Malaysia.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Di samping menulis cerpen dan puisi, ia juga menulis novel dan naskah drama. Khusus naskah, ia melakukan kreasi dengan mentransformasikan sejumlah cerpen dan cerita rakyat menjadi naskah siap pentas. Beberapa naskahnya adalah “Penangkaran Buaya” (2000), “Lampor Kali Comber” (2000, transformasi), “Republik Binatang” (2001, transformasi), “Siti Baheram” (2007, transformasi cerita rakyat) dan “Saksi tak Boleh Bisu” (2008). Sejumlah naskah tersebut akan diterbitkan dalam waktu dekat dalam dua buku,”Penangkaran Buaya Siti Baheram” dan “Di Republik Binatang, Saksi tak Boleh Bisu”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-6979155820136230811?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/6979155820136230811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/raudal-tanjung-banua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6979155820136230811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6979155820136230811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/raudal-tanjung-banua.html' title='Raudal Tanjung Banua'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUeD7aOBRI/AAAAAAAAABM/1_UamSyrNz0/s72-c/pic_VJazRAaWVC_2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-5751242821493457631</id><published>2009-10-25T11:39:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T23:22:04.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengintip Yogya'/><title type='text'>Relokasi Pasar Ngasem</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bantul. Portalkiri &lt;/span&gt;–Rencana relokasi pasar Ngasem ke Bursa Agro Jogja (BAJ) semakin santer terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Banyak pihak yang menyayangkan rencana relokasi ini. Pasar Ngasem dianggap sebagai salah satu tempat bersejarah dan tidak lepas dari tata ruang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam tata ruang “Jawa”, antara keraton, alun-alun, masjid dan pasar ditata sedemikian ruang dalam satu lingkaran sirkulasi aktivitas. Coba kita lihat, di hampir setiap daerah di Jawa. Di depan kantor Bupati atau walikota terdapat lapangan atau alun-alun, di sekitarnya juga pasti ada masjid, pasar dan hal-hal lain yang menyertai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika pasar Ngasem dipindahkan, maka bukan hanya terjadi perubahan konstelasi ruang fisik, tetapi juga konstelasi sosiologi. Masyarakat sekitar pasar Ngasem yang bergantung pada dinamika pasar Ngasem akan kehilangan lapangan kerja. Mobilitas masyarakat tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidak semata-mata mobilitas fisik. Bukankah di sekitar BAJ juga ada masyarakat yang sangat berharap banyak dengan relokasi Pasar Ngasem. Salah satunya lapangan kerja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bukan hanya pemerintah yang harus memikirkan sedemikian rupa proses relokasi, namun juga berusaha sepreventif mungkin untuk melihat kemungkinan yang terjadi ketika relokasi dilakukan. Coba kita lihat relokasi klitikan ke Wirobrajan. Di satu sisi alun-alun selatan menjadi ruang publik yang lebih rekreatif. Tapi ke manakah orang-orang yang tidak mampu menyewa lapak di Wirobrajan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Di sisi lain, Warga Masyarakat Dukuh, daerah rencana relokasi Pasar Ngasem juga perlu mendapat perhatian. Dalam hal ini, ketika relokasi selesai dilakukan, dinamika yang baru akan muncul. Sangat mungkin terjadi alih profesi, perubahan pola interaksi masyarakat dan  kecenderungan-kecenderungan lainnya. Sangat mungkin memunculkan kesenjangan yang mengarah pada konflik baik secara mental maupun fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompisisi sosiologis Pasar Ngasem “kedua” akan berubah, irama kerja akan berubah, atmosfir Yogyakarta akan berubah. Nantinya warga eks “Pasar Ngasem lama” dan masyarakat sekitar BAJ akan membentuk kesepakatan-kesepakatan sosial dalam proses interaksi masyarakat “Pasar Ngasem baru”. Dalam hal ini pamerintah hendaknya lebih berperan sebagai fasilitator. Bukan sebagai pemancang aturan sepihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pemerintah perlu membuat bingkai perencanan lebih matang untuk melakukan relokasi. Akan ke manakah para tukang parkir Pasar Ngasem?Akan  ke manakah para tukang becak dan tukang ojek yang bergantung pada pengunjung Pasar Ngasem? Jangan pula dilupakan segala mitos dan sejarah tentang pasar Ngasem yang terlanjur dipercaya sebagai salah satu bagian penting dalan konsteladi dan kosmologi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andika Ananda (153070083)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-5751242821493457631?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/5751242821493457631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/relokasi-pasar-ngasem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5751242821493457631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/5751242821493457631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/relokasi-pasar-ngasem.html' title='Relokasi Pasar Ngasem'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-6558295168274511611</id><published>2009-10-25T11:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T20:59:19.711-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil dan Prestasi'/><title type='text'>Game Developer, antara Hobi dan Profesi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUefUEjrJI/AAAAAAAAABU/2caps3ZBUW0/s1600-h/9325_153936871597_827611597_2576626_6625062_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUefUEjrJI/AAAAAAAAABU/2caps3ZBUW0/s200/9325_153936871597_827611597_2576626_6625062_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396753251786009746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAndika%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB;} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{mso-style-link:"Footer Char"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 207.65pt right 415.3pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB;} p.MsoBodyText2, li.MsoBodyText2, div.MsoBodyText2 	{mso-style-link:"Body Text 2 Char"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:1.0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.BodyText2Char 	{mso-style-name:"Body Text 2 Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Body Text 2"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	mso-ansi-language:EN-US; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} span.FooterChar 	{mso-style-name:"Footer Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:Footer; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-US; 	mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:67.5pt 73.3pt 94.5pt 94.5pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:55.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: left; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;b&gt;Catatan lain dari pameran Jogjakomtek 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: left; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Ruang Publik untuk Anak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dunia ini tak lebih dari “sebuah permainan”. Menjalani kehidupan sama halnya dengan “bermain”. Memilih sebuah permainan yang di dalamnya ada aturan main yang harus kita ikuti.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Game Developer&lt;/i&gt; salah satu hobi kreatif  yang menjanjikan masa depan.&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dari anak kecil sampai orang tua, siapa yang tak suka bermain?Tentu saja permainan anak-anak dan orang tua akan berbeda. Bermain dan permainan tidak sebatas menjadi hiburan semata. Lebih dari itu, bermain menjadi sebuah ruang khatarsis secara artifisial maupun simbolis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam salah satu film &lt;st1:place st="on"&gt;Hollywood&lt;/st1:place&gt; yang berjudul &lt;i&gt;Jumper &lt;/i&gt;diceritakan tentang seorang anak indigo yang mempunyai kemampuan teleportasi (menerabas ruang dan waktu dengan kekuatan pikiran). Realitas film sebagai hasil rekayasa imaji,fantasi simulasi yang diolah sedemikian rupa seolah-olah nyata. Segala rekayasa fiksi dapat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikonstruksi sedemikian rupa, bahkan untuk mewujudkan “kemustahilan” sekalipun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Pada kenyataan hari ini, di sekitar kita, tanpa satu “kelebihan khusus” sekalipun, setiap orang mampu menerabas ruang dan waktu, bahkan yang mustahil sekalipun dengan berbagai cara yang dianggap paling efektif, efisien walaupun terkadang sering mengabaikan rasionalitas. Lihat saja bagaimana handphone, televisi, internet, video game dan sebagainya yang akrab dengan sebagian besar “manusia kini”. Handphone, televisi, internet, video game hanya beberapa contoh hasil rekayasa industri kreatif yang terus &lt;i&gt;diupdate&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;diupgrade &lt;/i&gt;(dikembangkan) sedemikian rupa baik desain maupun fiturnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kembali pada dunia bermain. Ketika ruang bermain fisik anak terasa mengkhawatirkan, semakin sempit, bahkan mungkin tidak ada lagi, maka anak-anak memerlukan sebuah ruang alternatif. Untuk memenuhi hasrat bermainnya, kemudahan mengakses teknologi dijadikan salah satu pelampiasan. Salah satunya video game. Anak-anak masuk ke dalam ruang-ruang “kemustahilan” dalam rekayasa animasi visual. Berpetualang ke dunia maya, berteleportasi tetapi tidak menggunakan kekuatan pikiran seperti dalam films &lt;i&gt;Jumper.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Anak kecil generasi hari ini lebih akrab dengan &lt;i&gt;Playstation, Xbox, Nintendo, Game Boy, dll&lt;/i&gt; ketimbang permainan tradisional seperti &lt;i&gt;jamuran, cublak-cublak suweng, congklak&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;dll&lt;/i&gt;. Zaman sudah berbeda, sebagian besar anak-anak lebih suka berada di rental &lt;i&gt;playstation&lt;/i&gt; daripada berkumpul dengan kawan-kawannya untuk sekedar bermain petak umpet di halaman rumah. Apakah ini tanda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ruang publik untuk anak-anak sudah tak ada lagi?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Hiburan, anak-anak, ruang bermain telah dikomodifikasi sedemikian rupa oleh pihak tertentu demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Ruang-ruang publik fisik untuk anak telah berpindah ke dalam kepingan CD &lt;i&gt;game&lt;/i&gt;, lorong-lorong yang penuh warna, kilatan cahaya, kekerasan dan berbagai macam sensasi lain. kenaifan anak-anak “dibunuh”, dibawa masuk ke cerobong-cerobong yang sesak polusi teknologi dan industri yang bernama video game.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; ahli dari berbagai bidang yang mengkaji persoalan anak dan video game. melontarlam beberapa pernyataan. Misalnya, bahwa anak-anak menjadi semakin individualis, mengalami ketidakstabilan emosi, kehilangan orientasi dan realitasnya sebagai anak-anak, kehilangan ruang publik, dsb. menjadi masalah yang semakin lama, semakin tak terselesaikan. Buktinya rental video game semakin banyak, orangtua tidak keberatan membelikan video game untuk anaknya sebagai hadiah atau bentuk kasih sayang kepada anaknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Sungguh&lt;i&gt; Absurd&lt;/i&gt;, dengan alasan kasih sayang dan memberikan rasa aman, banyak orangtua yang membiarkan anaknya berjam-jam bermain &lt;i&gt;video game&lt;/i&gt; daripada keluar rumah bahkan belajar. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; orangtua yang seperti ini lupa bahwa &lt;i&gt;video game&lt;/i&gt; tak lebih berbahaya dari jalanan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Bagaimana jika generasi selanjutnya adalah generasi yang hanya larut dalam kemustahilan-kemustahilan, fantasi dan simulasi yang akhirnya mengakibatkan mereka menjadi gugup dan gagap menghadapi realitas bahwa mereka adalah anak-anak?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mungkin tulisan ini akan berhenti sampai di sini bila kita melihat dunia game hanya dari satu sisi. Tulisan ini pun tidak berekspektasi untuk memberikan solusi persoalan-persoalan mengenai dampak negatif video game. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Frida : “Dunia Game, lebih dari Dunia Bermain”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;“Live is short play more”&lt;/i&gt;. “Hidup ini singkat kawan, banyaklah bermain”. Itulah pesan iklan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;X-Box, salah satu merk video game terkemuka di dunia yang diproduKsi oleh &lt;i&gt;Microsoft&lt;/i&gt;. Sebuah pesan iklan yang singkat, padat dan sangat provokatif. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Kita boleh bangga, bahwa Bangsa kita memiliki banyak orang kreatif dalam berbagai bidang dengan pencapaian prestasi yang diakui dunia. Dari sekian banyak bidang, ada satu bidang yang cukup menarik dan cenderung baru berkembang di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, yaitu &lt;i&gt;game developer&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Game developer&lt;/i&gt; adalah orang-orang kreatif yang hobi sekaligus pekerjaannya adalah membuat game.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Setelah mengatur janji, akhirnya 18 Oktober lalu saya bertemu Frida (sapaan akrab Frida Dwi Iswantoro) pada pameran Jogjakomtek di Jogja Expo Center. Anak muda kreatif yang menekuni dunia pembuatan game sejak tahun 2005 ini bekerja di sebuah perusahaan pembuat game yang berasal dari &lt;st1:place st="on"&gt;Sunderland&lt;/st1:place&gt;, Inggris. Bagi Frida membuat game adalah sebuah titik temu antara hobi dan pekerjaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Semasa SMA Frida tak lebih dari seorang siswa biasa yang suka bermain game. Seringkali Frida menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bermain game. Salah satu game favoritnya adalah &lt;i&gt;counter strike&lt;/i&gt;, sebuah game perang antara tim pemburu teroris dan kelompok teroris yang berusaha meledakkan suatu tempat. Di kalangan penggila game tentu tak asing dengan game yang satu ini. Siapa yang menyangka hobinya bermain game ternyata berdampak positif. Kegemaran bermain game membawa Frida menjadi seorang pembuat game profesional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berawal dari sebuah keisengan mengikuti sebuah forum &lt;i&gt;flash game&lt;/i&gt; (:jenis software untuk membuat animasi). Kebetulan Frida berkenalan dengan Mas Wanda, seorang &lt;i&gt;flash game developer &lt;/i&gt;yang cukup handal. Obrolan demi obrolan antara Frida dan Mas Wanda membuat Frida tertarik untuk tahu dan belajar lebih banyak tentang &lt;i&gt;flash game&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Awalnya Frida mempelajari pembuatan &lt;i&gt;flash game&lt;/i&gt; lewat &lt;i&gt;e-book&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;buku yang disebarkan secara online di forum yang ia ikuti. Frida yang pernah mengenyam pendidikan Diploma 1 desain grafis memudahkan Frida untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk belajar dan memahami operasional dan aplikasi pembuatan game dengan piranti lunak &lt;i&gt;flash &lt;/i&gt;lebih cepat. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Game developer &lt;/i&gt;sebagai sebuah &lt;i&gt;forum&lt;/i&gt; yang disebarkan lewat milis-milis sudah ada sejak tahun 1993. Ketika itu sudah muncul buku tentang pembuatan game yang berbasis bahasa C. Tahun 1993 menjadi embrio awal sebelum dikembangkan dalam bentuk forum tersendiri di luar milis dan bahkan sekarang menjadi sebuah profesi yang mulai banyak diminati dan cukup menjanjikan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Dalam memuat game walau yang sederhana sekalipun, biasanya diperlukan satu tim dengan spesialisasi bidang kerja khusus. Misal: &lt;i&gt;Programmer, character artist &lt;/i&gt;(pembuat karakter tokoh game)&lt;i&gt;, interface artis&lt;/i&gt;t (layout game)&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;3D modeller,&lt;/i&gt; co&lt;i&gt;ncept artist&lt;/i&gt; (membuat konsep awal dan gambar manual tokoh),&lt;i&gt; game designer &lt;/i&gt;(sistem penggunaan game),&lt;i&gt; sound artist&lt;/i&gt; (pengisi suara) dan terakhir adalah b&lt;i&gt;eta tester&lt;/i&gt; (memeriksa &lt;i&gt;bug&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;error&lt;/i&gt; dalam game&lt;i&gt; &lt;/i&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Mungkin tak banyak yang tahu, begitu banyak game yang digemari hampir seluruh penggila game di seluruh dunia terdapat campur tangan orang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Semua karakter mobil dalam game&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“ &lt;i&gt;Need for Speed Underground”&lt;/i&gt;, ilustrasi musik &lt;i&gt;final fantasy&lt;/i&gt;, ilustrasi game C&lt;i&gt;ontra&lt;/i&gt; terbaru dan masih banyak lagi game yang melibatkan kemampuan orang Indonesia dalam proses pembuatannya. Tentu kita patut bangga.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;“&lt;/b&gt;Dunia Game, lebih dari dunia bermain dan saya bangga dengan pekerjaan saya, banyak orang menganggap pekerjaan saya luar biasa dan keren”&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kata Frida. Pekerjaan di dunia game merupakan sebuah bisnis yang mengandalkan kreativitas. Perlu ketekunan yang luar biasa bila ingin bekerja dalam bidang ini. Baginya pekerjaan dengan modal kreativitas, tidak akan pernah habis selama seseorang masih memiliki semangat untuk melakukan inovasi dan terus mengikuti perkembangan dengan cerdas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;Berawal dari sebuah hobi dan iseng akhirnya menjadi pekerjaan yang menjanjikan. Tak perlu dibantah lagi dunia game, tidak sekedar menjadi dunia untuk bermain, bersenang-senang dan menghibur diri. Dunia game kini menjadi dunia yang potensial dan menjanjikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Dari pengalaman Frida, terbukti bahwa game memiliki sisi lain yang nyata positif. Sangat mungkin seorang anak kecil yang pada mulanya hanya suka bermain game, ketika diarahkan dia akan mempunyai keinginan untuk membuat game sendiri dan akhirnya bisa menjadi &lt;i&gt;professional game developer.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ruang publik untuk anak semakin sempit. Biarkan mereka memasuki ruang bermain lain, sebuah ruang yang kaya imaji, fantasi dan kenaifan anak-anak yang nantinya dibingkai dalam kreativitas yang muaranya positif. Tak bisa disangkal pentingnya orang tua dalam hal ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tak perlu canggung, bagi siapapun yang ingin tahu lebih banyak tentang pembuatan game mungkin bisa bergabung di berbagai milis dan forum. Salah satunya gamedevid.org. Siapa tahu anda dapat menjadi seorang pembuatan game professional dan jadikan “dunia game lebih dari dunia bermain”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; text-align: left; line-height: 150%;" align="left"&gt;&lt;b&gt;Andika Anand (&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;153070083)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin-left: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-6558295168274511611?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/6558295168274511611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/game-developer-antara-hobi-dan-profesi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6558295168274511611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6558295168274511611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/game-developer-antara-hobi-dan-profesi.html' title='Game Developer, antara Hobi dan Profesi'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/SuUefUEjrJI/AAAAAAAAABU/2caps3ZBUW0/s72-c/9325_153936871597_827611597_2576626_6625062_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-8828408717873012937</id><published>2009-10-13T17:55:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T18:17:31.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengintip Yogya'/><title type='text'>Jogja Java Carnival 2009, Even Besar ditengah Isu Status Keistimewaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/StUlerC2L9I/AAAAAAAAAA0/Yx2DD25p14E/s1600-h/IMG_7219+copydd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/StUlerC2L9I/AAAAAAAAAA0/Yx2DD25p14E/s320/IMG_7219+copydd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5392257337727004626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yogyakarta-Portalkiri&lt;/span&gt;. Ditengah ramainya memperjuangkan status keistimewaan, bulan Oktober menjadi bulan yang istimewa bagi warga Yogyakarta dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibulan tersebut, tepatnya pada tanggal 7 Oktober, warga Yogyakarta merayakan hari ulang tahun kota Yogyakarta yantg pada tahun 2009 ini merupakan hari jadi yang ke 253. Tak terasa ternyata sudah 2,5 abad Yogyakarta bertahan dengan kehidupan manusia yang berbudaya bermartabat dan berproduktif ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin ramai juga sebuah kota yang masih erat mempertahankan nilai-nilai dan tradisi budaya yaitu Jawa. Budaya itulah yang menjadi modal terbesar dalam pengembangan kota dikemudian hari, termasuk dunia kepariwisataannya. Saat ini Yogyakarta selalu berbenah dalam mewujudkan dirinya sebagai salah satu tujuan utama wisata Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kota pariwisata yang berpendidikan dan berkualitas serta untuk melestarikan tradisi yang ada, maka tanggal 7 sampai 17 Oktober 2009 ini Kota Yogyakarta mempunyai sederet agenda perayaan. Mulai dari pawai yang terdiri dari berbagai kelompok masyarakat dan instansi baik swasta maupun pemerintah, pentas kesenian baik tradisional maupun modern, serta kegiatan-kegiatan menarik lainnya. Semua itu tersaji dalam acara Jogja Java Carnival 2009. Sebagai sebuah event yang digelar tahunan, kali ini Jogja Java Carnival mencoba menyajikan sesuatu yang lebih menarik daripada acara JJC yang telah digelar pada tahun-tahun sebelumnya. Semua itu ditempuh sebagai salah satu perjuangan untuk tetap memiliki sebuah status keistimewaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(SK)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-8828408717873012937?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/8828408717873012937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/jogja-java-carnival-2009-even-besar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/8828408717873012937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/8828408717873012937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/jogja-java-carnival-2009-even-besar.html' title='Jogja Java Carnival 2009, Even Besar ditengah Isu Status Keistimewaan'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_jNnkwAMBA3w/StUlerC2L9I/AAAAAAAAAA0/Yx2DD25p14E/s72-c/IMG_7219+copydd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8812607964007598275.post-6705826189855789952</id><published>2009-10-11T23:04:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T11:27:27.392-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seni dan Budaya'/><title type='text'>Festival Asia Three</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bantul- Portalkiri&lt;/span&gt;. Jum’at (7/10)pekan lalu Rumah Budaya Tembi menyelenggarakan pentas tari dari berbagai Negara, seperti Jepang, Prancis, Korea, India dll. Acara yang bertajuk Jogja Asia Tri 2009 digelar sejak tanggal tujuh hingga sepuluh Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagelaran ini dilaksanakan di dua tempat, yakni di Rumah Budaya Tembi Bantul dan Museum Ulen Sentalu-Kaliurang. Jogja Asia Tri merupakan event pertunjukan tari tahunan, sekaligus ajang workshop dan kolaborasi antar seniman dari segala penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Andika Ananda/153070083)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8812607964007598275-6705826189855789952?l=portalkiri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalkiri.blogspot.com/feeds/6705826189855789952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/festival-asia-three.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6705826189855789952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8812607964007598275/posts/default/6705826189855789952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalkiri.blogspot.com/2009/10/festival-asia-three.html' title='Festival Asia Three'/><author><name>portalkiri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01588055125658077471</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
