Minggu, 08 November 2009

Pameran hasil Agrowisata digelar di Seputaran Lapangan Paseban Bantul


 
Bantul-Portalkiri . Dalam rangka memperingati sumpah pemuda pameran hasil agrowisata digelar di lapangan Paseban Bantul  mulai tanggal 6 sampai 9 November.
Pameran tersebut diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat daerah Bantul.  Kegiatanitu  rupanya merupakan hasil dari pelatihan kepada beberapa elemen masyarakat di daerah bantul oleh pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Pertanian Kabupaten Bantul.
Ya pameran ini sebetulnya merupakan tujuan akhir pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bantul. Dan pameran inilah yang merupakan hasil akhir dari pelatihan tersebut, apakah hasil pelatihan kita berhasil atau tidak”, ucap Yuniarti selaku peserta pameran yang berasal dari kelompok UP FMA Trirenggo (8/11).
Dalam pameran tersebut, dijual beraneka makanan hasil agrowisata di daerah Bantul.
Ditanya manfaat dari pameran ini, Yuniarti menambahkan “ Pameran ini sangat bermanfaat bagi kami, selain mengenalkan makanan hasil agrowisata lokal bantul, kita juga merasa lebih mandiri dan percaya diri dalam membuat makanan lokal yang diaharapkan mampu menembus pasar nasional. Selain itu, kegiatan seperti ini juga memotivasi para ibu-ibu rumah tangga untuk bertindak melakukan suatu hal yang positif dari pada diam dirumah”.
“Pada tahun 2015 mendaatang,  pemerintah Kabupaten Bantul akan mengangkat makanan tradisional  di masyarakat menjadi sebuah kekayaan yang dimiliki oleh Kabupaten Bantul” tambah Yuniarti disela-sela kesibukannnya menjual makanan hasil pelatihannya kepada sejumlah konsumen.
 Sigid Kurniawan/153070139


Continue Reading...

PILAR VISUAL ART EXHIBITION “LOCALWARMING”

Perkembangan dunia seni memang tidak ada habisnya. Hal ini terbukti dengan adanya exhibisi karya seni yang bertajuk “Localwarming”. Acara yang diselanggarakan oleh komunitas yang menamakan dirinya PILAR ini mengadakan acara mulai dari 3-11 november yang akan datang. Acara yang diselanggarakan di Bentara Budaya Ygyakarta ini memamerkan 4 patung, 14 lukisan dan 2 instalasi. Karya yang paling menarik adalah sebuah karya teks culture yang berbunyi HEAVEN, yang menarik adalah teks ini di tuliskan dengan warna hitam dengan sepasang burung bangkai memakan sebagian dari tulisan itu. Menurut seniman yang membuat Putu Aan Juniartha “ sapa yang bilang surga itu harus berwarna putih”. Seniman menggunakan warna hitam sebagai makna dari tanda Tanya yang dia alami selama ini. Melalui permainan visual dia berharapn dapat menemukan jawaban atas kegelisahan dan tanda Tanya yang besar seperti apa surga itu.( G. Agung Bayu Kurniawan 153070021)
Continue Reading...

OPEN HOUSE GEDUNG AGUNG

Jika kita akan berkunjung ke Jogjakarta sepertinya kita harus menambahkan satu lagi peta tujuan wisata kita. Mulai tahun ini Gedung Istana Negara atau yang lebih kita kenal dengan Gedung Agung  mulai di buka untuk umum. Tetapi kita harus berombongan untuk dapat masuk ke gedung ini. Untuk pertama kalinya gedung ini di buka untuk umum pada jumat 6 november lalu yang berakhir pada hari ini 8 november. Gedung ini di buka untuk umum sebgai rangkaian acara Jogja Malioboro Carnival, yang juga berakhir pada hari ini juga. Walau baru dibuka satu kali pada tahun ini, rencananya akan dijadikan sebagai agenda tahunan. Tapi sayangnya yang baru bisa diterima untuk berkunjung digedung ini adalah rombongan dari lembaga, komunitas, yang jumlahnya minimal 50 orang, tutur Suyaka (petugas istana red.). Untuk paket tour istana ini adalah, pertama dijelaskan tentang sejarah gedung yang dibangun pada tahun 1832 ini. Ruang pertama yang diperkenalkan adalah Ruang Garuda, ruang ini biasa digunakan untuk rapat cabinet yang di awali pada masa jabatan Presiden Soekarno. Selajutnya adalah ruangan yang terletak di sebelah kanan dari Ruang Garuda adalah ruang Sudirman, dinamakan demikian karena ruang ini dulunya tempat dimana Sudirman meminta izin untuk berperang kepada Presiden.
Ruang Diponegoro yang terletak di sebelah Kiri ruang utama berfungsi sebagai ruang pertemuan empat mata dan sebagi transit tamu Negara yang sedang berkunjung. Selanjutnya pengunjung diajak masuk lebih dalam menuju ruang makan VVIP yang terletak di belakang ruang utama, ruangan ini digunakan untuk jamuan makan yang undangannya langsung dari presiden. Karena sangat privat jumlah kursi yang ada di ruang makan ini pun disesuiakan dengan tamu yang akan berkunjung, jika ada yang batal hadir jumlah kursi akan dikurangi, dan yang menarik lagi adalah dalam ruangan ini suami istri tidak dapat duduk bersebelahan harus selang seling dengan tamu yang lain. Makanan yang diajikan pun harus melalui berbagai pemeriksaan dari dinas POM daerah, dan pasukan pengaman presiden sendiri. Lebih kedalam lagi kita akan melihat ruang kesenian, ruang ini berfungsi sebagai tempat menjamu tamu melalui berbagai pertunjukan kesenian.
Disebelah kiri dari ruang kesenian ini adalah ruang sawo jajar yang digunakan sebagai tempat menginap tamu-tamu kenegaraan. Sebelah kanan ruang dari ruang kesenian kita akan melihat wisma Bumi Retawu yang digunakan sebagai tempat menginap paspampres, dokter istana dan sebagainya. Tour ni ditutup dengan adanya penjual berbagai macam pernak-penik istana. Antusiame warga sangat terlihat, walaupun tidak banyak warga yang tau akan event ini sehingga warga yang berkunjungpun tidak begitu banyak.(G. Agung Bayu Kurniawan 153070021)
Continue Reading...

Belajar dari Puntadewa dan Werkudara

Pemanasan global karena kesalahan-kesalahan kecil yang berakumulasi. Tapi sangat mungkin satu kesalahan atau kebenaran kecil akan mengubah sesuatu yang besar.

Dalam wacana global mengenai global warming, diterangkan tentang ancaman semakin rapuhnya dunia ini. Dunia fisik dan dunia simbolis. Dunia fisik di sini adalah bumi, sedangkan dunia simbolis menyangkut segala aspek kehidupan manusia dengan segala ornamen dan propertinya.

Menurut logika dalam wacana global warming, diterangkan mengenai ancaman melelehnya kutub utara, bocornya lapisan ozon, cuaca tidak menentu dan sebagainya merupakan akibat kesalahan perseorangan.

Di beberapa daerah di Jawa, sampai hari ini masih dipercaya tentang mitos, bahwa seseorang yang secara personal melakukan kesalahan yang menentang atau melanggar norma yang disakralkan (tabu) dapat membawa dampak yang bersifat kolektif. Orang jawa percaya bahwa antara jagad cilik dan jagad gede berikatan dan saling mempengaruhi.

Tidak ada yang paling sakti dan sejati dalam wayang, bahkan Dewa Sekalipun. “Kenapa jimat kalimasada bisa sirna Kakang Semar?” Tanya Puntadewa kepada Semar. Semar menjawab “Kamu adalah seorang satria berdarah putih, yang adil da bijaksana, tapi kamu telah melakukan satu kesalahan fatal. Kamu berjudi dan mempertaruhkan istrimu dan itulah pangkal semua bencana, yang mengakibatkan Kurukhsetra berdarah”.

Itulah salah satu petikan kisah Mahabarata. Ketika Puntadewa sudah memerintah Astina Pura dan Indrapastra usai Bratayudha. Jimat kalimasada yang merupakan pusaka sakti andalan Puntadewa tiba-tiba hilang, karena perbuatan tercela yang dilakukannya. Judi dadu yang menjadi pangkal terjadinya perang Bratayudha. Perang besar yang mengakibatkan punahnya wangsa kuru.

Werkudara dengan kesetiaan yang penuh kepada Durna mencari kayu gung susuhing angin dan tirta kamandanu. Di tengah samudera bertemulah dia dengan Dewaruci, sosoknya kecil, hanya sebesar ibu jari Werkudara. Werkudara diminta oleh Dewa Ruci untuk masuk ke telinganya. Mula-mula werkudara menolak “mana mungkin badanku yang sebesar ini masuk ke telingamu yang begitu kecil”.Dewaruci menjawab “jangankan kau, jagad seisinya dapat kumasukkan ke telingaku”. Akhirnya Werkudara masuk ke dalam telinga Dewaruci dan kembali melihat sosok Dewaruci . Werkudara yang biasanya tidak bisa berbicara dengan bahasa halus bahkan kepada Dewa, namun saat itu untuk pertama kali Werkudara berbicara dengan bahasa halus. Di sanalah Werkudara menemukan ilmu yang sejati. Ilmu nganti kawruh yang penuh dengan kerendahan hati.

Di sinilah dunia sungsang, dunia bolak-balik. Kecil di dalam besar, besar di dalam kecil. Kadang seringkali kita terjebak dengan hal-hal dangkal dan tampak sepintas mata. Masih banyak hal-hal yang tidak bisa dinilai hanya dengan pengamatan luar.

Tidak ada kata terlambat untuk mengubah hidup dan kehidupan dengan cara apapun untuk menjadi yang lebih baik. Siapakah yang akan kita contoh. Puntadewakah? Werkudarakah? Ataukah sosok siapakah?Puntadewa yang bijaksana kehilangan jimat kalimasada, Werkudara yang brangasan mendapat ilmu yang sejati.


ANDIKA ANANDA/153070083
Continue Reading...

Studiklub Teater Bandung di usia 50 tahun





Dalam rangka memperingati 50 tahun Studi Teaterklub Bandung (STB), diluncurkan kumpulan esai yang berjudul “Melakoni Teater”.

Rabu pekan lalu (26/10/2009) Digelar acara bedah buku “Melakoni Teater” dan pementasan monolog “Nyanyian Angsa” oleh Studi Teaterklub Bandung. Acara digelar di teater arena Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dengan pembicara DR.Yudi Aryani M, Hum. Tampak juga beberapa seniman dan komunitas teater yang hadir, seperti Wani Darmawan, Ibed Surgana Yuga, komunitas Teku, Lembaga Teater Perempuan, Saturday Acting Club, dll yang hadir pada peluncuran buku tersebut.

Buku “Melakoni Teater” merupakan kumpulan esai dari para pelaku, penulis dan kritikus teater Indonesia. Beberapa di antaranya Putu Wijaya, Putu Satria Kusuma, Beni Yohanes, Halim HD dan sejumlah nama lain yang tidak asing di jagad teater kontemporer Indonesia.

Sebagai kelompok teater tertua di Indonesia STB telah melakukan proses selama lima puluh tahun dengn lebih dari ratusan karya telah dipentaskan. STB sempat mengalami vakum sepeninggal Suyatna Anirun, pendiri STB. Namun beberapa muridnya seperti Wawan Sofwan, Muhamad Sunjaya, Ags. Arya Sanjaya akhirnya kembali turun gelanggang untuk melanjutkan perjuangan STB hingga hari ini.

Tak bisa dipungkiri betapa penting kehadiran STB dalam geliat teater Bandung dan teaeter Indonesia hari ini. Di Bandung sendiri, ketika dirunut secara silsilah hulu kreatif perteaterannya bermula dari STB dan Suyatna Anirun. Coba kita lihat Komunitas Payung Hitam, Laskar Panggung, Teater Republik, Creamer Box, Actor Unlimited dan sejumlah kelompok teater lainnya, dulunya adalah orang-orang STB yang kini mendirikan kelompok teaternya sendiri.

 “Dalam buku ini akan kita temukan siapakah sebenarnya STB dan bagaimankah perannya dalam konstelasi teater modern Indonesia” terang DR.Yudi Aryani M.Hum. Yudi Aryani menjadi salah satu saksi bagaimana proses kreatif yang pernah dilakukan STB ketika ia terlibat aktif dalam salah satu proses STB. Menurutnya STB memang tak bisa dipisahkan dengan sosok Suyatna Anirun. Tampak sekali perbedaan capaian estetis dan pola kerja STB saat ini bila dibandingkan dengan masa Suyatna. STB identik dengan realisme “gaya Suyatna” yang cenderung mengarah ke realisme konvensional gaya Eropa, dengan pola akting Stanislavsky. Salah satu garapan Suyatna yang paling mengagumkan adalah King Lear. Pada saat itu Suyatna menyutradarai sekaligus bermain sebagai Lear, Si Raja Tua. Sayangnya suasana diskusi yang terkesan terlalu formal dan normatif membuat audiens tidak responsif’ ungkap Nanang Arizona, salah satu peserta pada celah diskusi.

Usai acara diskusi dipentaskan sebuah monolog dengan lakon saduran “Nyanyian Angsa” karya pengarang Rusia Anton Chekov. Dalam lakon tersebut diceritakan tentang aktor tua yang dalam keadaan mabuk mendatangai panggung tempat biasanya ia berlatih dan pentas. Lelaki itu bercerita ketika masih muda dengan penuh semangat dan gairah ia mainkan tokoh-tokoh penting dan naskah-naskah besar.

Bila direnungkan lebih jauh, lakon monolog yang dimainkan bisa menjadi satu sindiran personifikatif. Pada kenyataannya, hari ini berteater menjadi pilihan dengan konsekuensi yang begitu sulit dan berat. Berbeda dengan dunia senirupa, menulis, fotografi dan tari. Para pelakunya bisa hidup dari sana. Sebaliknya tidak mungkin pelaku teater hanya menggantungkan hidupnya pada teater semata.

Bengkel Teater Rendra dan Teater Mandiri bisa bertahan sampai hari ini karena subsidi silang dari honor menulis Rendra dan Putu Wijaya. Bagaimanakah nasib Rendra ketika tua?Dilupakan. Coba kita lihat juga teater koma yang begitu besar dengan manajemen produksi yang sangat professional sekalipun belum mampu menghidupi para aktornya ketika produksi tidak dilakukan.

Seperti nasib si aktor tua dalam naskah saduran ‘Nyanyian Angsa” yang dimainkan STB pekan lalu. “Sungguh baru kali ini aku melihat panggung dalam keaadaan kosong. Tak nampak apapun selain lubang pembisik, sementara aku tak bisa melihat bangku penonton , kecuali kursi kosong yang terdepan”.Demikian salah satu petikan dialog dalam naskah tersebut.

Selamat ulang tahun untuk Studiklub Teater Bandung. Lima  puluh tahun, usia emas untuk sebuah kelompok teater.

ANDIKA ANANDA/153070083

Continue Reading...

Pentas Ludruk “Geger Tegal Banteng”

“Tegal Banteng jibrat getih udan tangis” demikian kalimat terakhir Delan sebelum mati.
Selasa (3/10/09) digelar sebuah pentas ludruk oleh kelompok ludruk sinar jaya (SJ) pimpinan Cak Ganes. Setelah hampir lima tahun vakum, pada pentas kali ini SJ membawakan lakon yang berjudul Geger Tegal Banteng. Sebuah lakon yang diangkat dari kisah nyata dengan latar belakang masa penjajahan Belanda.

Dalam lakon tersebut diceritakan tentang Pak Lurah yang membeli sejumlah tanah warga dengan harga murah dengan alasan untuk dibangun pondok pesantren. Pada kenyataannya ternyata Pak Lurah adalah Suruhan dari Gopermen Belanda. Yang diberi tugas untuk membangun pabrik tepung. Delan, Jawara dari Tegal Banteng yang mendengar rencana busuk pak Lurah tidak terima. Semedi yang seharusnya ditempuh empat puluh hari di watu sewu untuk memperoleh ilmu kedigdayaan ditinggalkan. Akhirnya terjadilan pertumpahan darah antara kelompok pro lurah dan kelompok kontra lurah yang dipimpin oleh Delan yang tidak terima dengan kesewenang-wenangan Lurah. Semuanya mati tanpa terkecuali Delan dan Pak Lurah.

Pada adegan terakhir muncullah Buyut Simpen dan Mbah Kasan Tajab, sepasang suami istri yang dituakan di Tegal Banteng. Buyut Simpen menangis tersedu melihat Delan tewas bersimbah darah. Mbah Kasan Tajab berusaha menenangkan Buyut Simpen sambil mengatakan “ Iki wis dadi opo kang ginaris dening Gusti Allah, Tegal Banteng jibrat getih udan tangis” (ini sudah digariskan Tuhan, Tegal banteng penuh darah dan hujan air mata).

Pentas malam itu berlangsung kurang lebih 3 jam tersebut cukup menghibur penonton dan penuh dengan pesan. Tentang bagaimana kebenaran tidak selalu menang, demikian pula dengan kejahatan. Pada pementasan malam itu Delan sebagai symbol kebaikan dan Pak Lurah, sebagai simbol kejahatan sama-sama mati.

Menurut Suharyoso M.Sn, salah satu dosen ISI Yogyakarta, walaupun dimainkan oleh anak-anak muda yang awam dengan dunia ludruk, namun tidak mengecewakan, bahkan sangat menghibur. Demikian pula disampaikan oleh Tohir, salah satu tokoh ludruk Surabaya yang kebetulan menyempatkan datang pada malam itu. “anak jaman sekarang kebanyakan malu, jangankan main ludruk, nonton saja sudah nggak mau. Saya bangga kepada kawan-kawan muda yang mau nguri-uri kebudayaan kita”.

Menurut Cak Ganes, lakon Geger Tegal Banteng akan dipentaskan kembali di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 22 November 2009 nanti.


ANDIKA ANANDA/153070083
Continue Reading...

Friendship through culture of india

Indonesia dan India tidak hanya mempunyai kesamaan dalam hal adapt istiadat, kepercayaan, dan kebudayaan, namun juga memiliki banyak kesamaan dalam dunia kesenian. Apakah itu ditampilkan melalui kekayaan warna dan desain busana yang digunakan oleh para penari, maupun cerita Ramayana dan Mahabharata yang melatarbelakangi episode-episode tarian, juga gerakan-gerakan tarian yang dibawakan, sampai ke instrument musik yang digunakan, keragaman dari kedua Negara ini paling baik diekspresikan melalui berbagai bentuk dan metode kesenian.
Penampilan dari keempat grup yang didatangkan langsung dari India di Taman Budaya, Yogya, pada tanggal 3 november 2009 dalam acara “Festival of India” membuktikan poin diatas secara tepat.
Acara ini merupakan usaha yang sangat membanggakan bagi kedutaan India dan pusat kebudayaan India, jawaharial Nehru yang bertempat di Jakarta.
Acara ini di gelar di jogja dan bali karena kedua kota ini memiliki suasana yang hamper sam dengan di India. Dalam acara ini pula M K Singh, yang menjabat sebagai director embassy of India di Jakarta berpendapat bahwa pertunjukan Ramayana dan Mahabharata di Indonesia masih sangat utuh tidak seperti yang ada di India yang sudah dipotong-potong. Selain itu juga dr. ida Rohana sebagai dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM “India sama dengan Indonesia disana sangat multiculture yang sama dengan Indonesia”. Acara yang mengambil tema “friendship through culture ini menarik banyak seklai penonton yang sudah mulai memadati tempat pertunjukan sejak pkl 19.00. ada 2 pertunjukan yang disajikan malam itu, yaitu Siddhi Dhamal yang diaminkan sekelompok orang menggunakan alat musik dan tarian sacral sebagai wujud persembahan bagi dewa. Selain itu juga disajikan tarian bernuansa teatrikal yang berjudul kartaveeryrjuna kalaga, dalam tari ini diceritakan sepasang raja dan ratu yang tidak juga dikaruniai anak, dan pada suatunketika dia dikaruniai anak tapi tanpa memopunyai tangan, tapi dengan berkat seorang guru dia mempunyai seibu tangan yang mempunyai kekuatan yang sangat besar.
Pertujuntukan diakhiri oleh Siddi Dhamal.(G. Agung Bayu Kurniawan, 153070021)
Continue Reading...
 

Portal Kiri Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template