Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni dan Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2010

Agus Katro Melukis Jalanan



“Jalanan adalah rumah bagi saya”
Pelukis gondrong yang terkenal dengan gayanya yang sangat spontan dan eksentrik ini sudah puluhan tahun malang-melintang di kehidupan jalanan. Sekian banyak pameran diikutinya, baik berskala lokal-regional, maupun nasional. Ada juga karya-karya Agus Katro yang dikoleksi oleh beberapa museum dan Galeri di Luar negeri, seperti Belanda, Jerman, New Zealand dan Amerika.
Bila anda berkunjung ke pasar senthir Malioboro, nama Agus katro sudah tidak asing lagi di kalangan para pedagang sepeda antik. Apalagi kalau anda berkunjung ke Pasar Kembang. Tapi jangan salah, jangan berburuk sangka dulu. Di kawasan yang terkenal dengan image wilayah “X” ini Agus berkesenian. Kesenian macam apakah yang dilakukan di sekitaran pasar kembang?
Malam itu akhirnya saya bisa bertemu dengan Mas Agus Katro di rumahnya yang terletak di daerah Mrisi, sebelan selatan pabrik gula Madukismo. Sulit menemui seniman yang satu ini, kesibukannya bukan hanya melukis, belakangan ia sangat intens memberi workshop menggambar untuk anak-anak kecil yang tinggal di sekitaran Pasar Kembang.
Agus Katro adalah nama beken dari Agus Suyamto. Pria kelahiran Solo 16 Desember 1968 ini sejak kecil memang hobi menggambar. Tak jarang orangtuanya harus repot menghapus coretan-coretan yang dibuat Agus di berbagai sudut rumahnya. “sejak kecil saya ini nggak punya cita-cita”, ungkapnya ketika ditanya tentang cita-cita sewaktu kecil. Ketika SMA Agus sempat mendaftar menjadi tentara, itupun karena permintaan orangtua. Alhasil uang sepuluh juta rupiah yang jelas cukup besar waktu itu hanya melayang percuma.”Jaman segitu pakai pelicin sepuluh juta, eh ternyata malah gagal”.
Lagi-lagi orangtuanya meminta Agus menjadi pengabdi negara. Kali ini berbeda, orang tua Agus memintanya untuk mendaftar di Dinas Kesehatan. Agus yang terlanjur patah hati karena tidak diterima menjadi tentara menolak dengan tegas keinginan orangtuanya. Keputusasaan sempat menyelimuti pikiran Agus, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkesenian. Apalagi kalau bukan tentangan dari keluarga yang didapat Agus. Bagi orangtua di jaman itu menjadi pegawai negeri adalah tolak ukur prestise dan kemapanan. Bahkan sampai sekarang.
Dengan berat hati kedua orangtuanya membiarkan Agus berkuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo mengambil jurusan Tata Rupa Panggung. Hanya bertahan satu tahun, Agus merasakan banyak benturan, mulai dari ia merasa jurusan yang ia pilih dirasa tidak sesuai dengan keinginannya yang lebih ingin menjadi pelukis, keluarga yang setengah hati membiayai, sampai hal-hal yang baginya sangat ideologis dalam proses berkeseniannya waktu itu. Agus ingin menjadi pelukis!

Berbekal Sepuluh Ribu Rupiah Nekat ke Jakarta
Sekitar tahun 1991 Agus nekat hijrah ke Jakarta. Pertama kali sampai di Jakarta, ia tinggal di sekitaran pondok bambu. Hanya berbekal uang sepuluh ribu rupiah yang ia dapat dari ibunya ia jelajahi kerasnya jalanan Jakarta. Mulai dari berjualan permen, menjadi pengasong koran, kuli bangunan, tukang adu ayam, dan berbagai pekerjaan lain yang dijalaninya untuk sekedar bertahan hidup dan melukis.
Setiap mendapat uang dari bekerja ia belikan peralatan lukis dan makan. Sisa membeli peralatan lukis dan makan selalu diberikan pada orang-orang di sekitarnya. “Semua orang yang hidup di jalan itu saudara saya mas, seluruh Jakarta itu rumah saya. Lhah wong tidurnya sak enake dhewe kok.”. Tak jarang Agus memilih menahan lapar untuk orang lain yang dipandang lebih menderita dibandingkan dirinya.
Sekitar tahun 92 Agus memutuskan untuk bekerja sebagai pelukis jalanan. Ia menggelar jasa lukis foto di sekitar Blok-M. Pada awalnya tak jarang ia harus berurusan dengan preman sekitar Blok-M.”Hampir setiap hari saya berkelahi, ya apa boleh buat”. Setelah diterima sebagai “orang Blok-M”, Agus mengalami benturan lagi. Kawan-kawannya sesama pelukis jalanan mengganggapnya terlalu idealis dan tidak cocok melukis di jalan. Berbagai kritikan pedas tak membuat Agus berkecil hati, justru sebaliknya, hal itu memacu Agus untuk terus belajar dan berjuang.

Di Bali Saya Lahir sebagai Pelukis

 Tahun 1993 Agus memutuskan untuk hijrah ke Bali. Ia mengaku tak pernah tahu di mana dan seperti apa Bali. Ia hanya pernah mendengar dari kawan-kawannya sesama pelukis jalanan, bahwa Bali adalah sarangnya pelukis hebat.
Dengan modal nekat ia berangkat ke Bali. Sesampainya di terminal Ubung, Agus berkenal dengan Made Cun, salah satu preman terminal yang mengantarkannya ke Ubud. Made Cun mengatakan bahwa Ubud adalah salah satu daerah di Bali yang menjadi gudangnya pelukis dan galeri.
Di Ubud ia mengenal beberapa pelukis sesama perantau, seperti Badrus, Soni, Yoyok, Murita dan lain-lain. Ketika awal di Bali Agus tinggal tidak menetap, kadang menumpang di tempat teman sesama pelukis, tapi seringkali juga tidur di jalanan. Entah emper toko, pasar atau tempat apapun asal bisa untuk tidur, ungkap Agus. “Awal di Bali, hidup saya jauh lebih berat daripada di Jakarta, Satu hari bisa makan sekali saja sudah bagus. Kadang malah dua atau tiga hari baru bisa makan. Tergantung lukisan laku apa tidak.” Berbagai cobaan yang terpaksa membuat Agus hidup prihatin justru menjadi energi dan semangat bagi Agus untuk tetap melukis.
 “Saya itu lahir sebagai pelukis ya di Bali”. Bila sebelumnya Agus hanya sekadar melukis, lain di Bali. Agus mulai mengenal aliran-aliran dalam lukisan dan berbagai teknik atau gaya melukis. Persinggungan Agus dengan banyak pelukis di Bali, mulai membuka mata Agus tentang perspektif melukis dan berkesenian. Hampir dua tahun di Bali, baru Agus mampu untuk kos dan hidup lebih dari cukup untuk ukurannya pada saat itu. Tapi tetap Agus tidak pernah lupa dengan jalanan. Ia selalu memberikan lebih dari sebagian rejekinya untuk orang-orang jalanan.
Awalnya Agus asyik menekuni gaya impresionisme, sempat beralih ke abstrak, hingga akhirnya ia nikmat dengan gaya naïf figuratif. Tema dan figur yang muncul di lukisannya, selalu tema-tema urban, problematika masyarakat kelas bawah dan berbagai persoalan sosial yang dirasa dekat dengannya. Jalanan menjadi sumber rumah, sekaligus sumber inspirasi baginya.
Tahun 98 ia menikah dengan pelukis asal Iran yang bernama Nasim. Perkenalan yang hanya berlangsung selama tiga bulan bukan waktu yang singkat untuk saling mengenal dan memutuskan untuk membuat ikatan kehidupan yang lebih serius.
Mereka hidup sebagai dua seniman eksentrik dengan orientasi sosial yang tinggi. Pernikahan dengan Nasim tidak membuat Agus berubah, jalanan tetap menjadi segalanya bagi Agus.. Menurut Nasim, justru karena itulah ia sangat mencintai Agus. Baginya ia suami yang spontan, berhati besar, sehingga sering tidak menggunakan pikirannya dalam bertindak untuk hal-hal yang bersifat sosial. “bagi saya di situlah sebenarnya esensi berkesenian’ tutur pelukis tamatan salah satu universitas seni terkemuka di Belanda ini. Ketika kita mampu berbesar hati menangkap dan merespons kondisi sosial dengan spontan (rasa), daripada pikiran. Meletakkan ego sebagai seniman dan melukis dengan sikap dan perbuatan.
13 tahun dirasa cukup bagi Agus menimba ilmu dan menimba hidup di Bali. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan proses berkeseniannya di Yogyakarta.

Saya menemukan Yogyakarta di Pasar Kembang (Sarkem)
Teh suguhan dari Agus sudah hampir tandas, tapi dia masih begitu berapi-api menceritakan perjalanan hidupnya. “Saya juga nggak tahu mas, dari dulu saya itu nggak pernah mikir masa depan, bahkan saya itu sering nggak makan kok, yang penting bisa beli cat, terus sisanya buat orang lain.hahaha”. Agus mengutarakan itu dengan sangat spontan.
Agus memutuskan ke Yogyakarta. Menurut Agus Yogyakarta memiliki aura berkesenian yang lain dan sangat berbeda dengan Bali. Tak bisa dipungkiri sejarah seni lukis Yogyakarta memang sangat luar biasa. Orang-orang semacam Affandi, Basuki Abdullah dan sejumlah nama besar lainnya menempuh prosesnya di Yogyakarta.
Memang pada kenyataannya, sekarang ini banyak sekali terjadi monopoli pasar dan hegemoni dari kelompok-kelompok tertentu, tetapi bagi Agus itu hanya dinamika dari proses berkesenian. “Obsesi saya tetap jadi orang terkenal dan profesional mas, tapi saya nggak akan lupa sama jalanan”.
Agus juga tidak begitu ingat, sejak kapan dia asyik dengan suasana di sarkem. Baginya sarkem adalah tempat yang sangat inspiratif. Agus mengungkapkan, bahwa justru di Sarkem ia banyak belajar tentang hidup. Tentang janda berusia 18 tahun yang harus menghidupi dua anaknya, tentang istri yang memang “dijual” suaminya, tentang anak berusia 14 tahun yang harus merelakan kegadisannya sekedar untuk makan. Masih banyak lagi tentunya serangkaian kisah satir lainnya.
Di Sarkem Agus tidak sekedar melukis dan mengajari siapapun yang ingin belajar melukis, seperti kebiasaannya ketika hidup di Jakarta dan Bali, seringkali Agus membagikan sedikit rejekinya untuk orang-orang di sekitar sarkem. Ia sering tidak tega melihat perempuan malam di sana. “Kalau nggak laku ya, kasihan juga Mas, kadang mereka itu seharian juga bisa nggak makan kok mas. Kalau saya punya uang ya saya belikan sego kucing, kalau nggak punya ya  sama-sama laparnya.”
“Saya itu menemukan Yogyakarta ya di Sarkem”. Menurut Agus,,kehidupan di Sarkem lebih menyedihkan, daripada di tempat-tempat lain. Orang-orang di Sarkem adalah orang-orang yang nekat bertahan hidup. Sama seperi seniman. Sebagian besar masyarakat masih belum bisa menerima pekerjaan sebagai seniman. Mirip juga dengan pelacur. Saya berproses yang di jalan, ya di sarkem, ya di mana saja. Yang penting saya bisa melukis dan membuat orang lain senang.
Melukis itu nggak hanya di kanvas, jalanan juga saya lukis!


Seniman dan Realitas Sosial

            Tak beda dengan sebuah profesi konvensional lainnya, berkesenian juga merupakan sebuah pilihan logis untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Putu Wijaya, ketika menjadi seniman selayaknya berpikir idealis, tetapi tetap realistis. Tentu, ketika idealisme dan kebutuhan domestik dapat bersinergi, maka lengkaplah hidup seorang seniman.Benarkah itu? Lalu bagaimanakah dengan ruang sosial yang lebih luas?
Siapa yang tak kenal dengan Djoko Pekik, pelukis tua yang terkenal lewat lukisan babinya, tepat ketika lengsernya rezim Soeharto.. Sekitar tahun 60-an Djoko Pekik bersama kawan-kawannya mendirikan Sanggar Bumi Tarung, sebuah sanggar yang berisi para pelukis dan para perupa yang disingkirkan dengan begitu naïf oleh kungkungan orde baru. Sanggar ini memiliki prinsip bahwa seorang seniman harus tetap turun ke bawah untuk “merasai dan benar-benar memberikan solusi secara lebih konkret dan langsung”.
            Dalam tradisi Aristotelian, memandang prinsip estetika berdasarkan dua hal, form (bentuk) dan isi (content). Ketika sebuah karya hadir, tentu karya itu berangkat dari kerangka berpikir dan pengalaman senimannya yang berikatan kuat dengan konstelasi sosiokulutural tempat seorang seniman berada. Bentuk dan isi dalam karya seni terkadang seperti sebuah puzzle yang saling mencari kesesuaian.
Sekitar tahun 60 an, boleh dibilang tahun di mana kesenian dan politik bersinergi untuk saling membangun strata dan kekuatan. Setidaknya ada dua kubu besar yang saling bertentangan, yaitu LEKRA dan MANIKEBU. LEKRA cenderung humanis dan MANIKEBU cenderung UNIVERSALIS. LEKRA diidentikkan dengan komunisme, sedangkan MANIKEBU diidentikkan dengan liberalisme. Pada era Soekarno, LEKRA begitu berkembang. Anggotanya sangat banyak, bahkan orang-orang di luar kesenian, seperti petani, buruh dan berbagai “profesi kerakyatan”, bergabung dalam LEKRA.
Bagi seniman yang cenderung universalis, menganggap seniman yang hadir di tangah masyarakat tidak harus untuk memberikan solusi pada persoalan sosial. Justru lewat karyanya seniman bisa saja mengajak masyarakat untuk sekedar katarsis, atau bahkan mengalienasi dirinya dari persoalan. Seperti dikatakan Anton Chekov, bahwa seniman tidak harus hadir seperti orang optimis, seniman juga bisa hadir sebagai orang pesimis, karena seniman bukanlah Tuhan. Dengan kata lain, terkadang kesenian dan persoalan sosial memang harus dipisahkan sebagai dua realitas yang berbeda.
Berbeda lagi pandangan seniman yang cenderung humanistis. Bagi seniman humanistis, seorang seniman adalah seseorang yang seharusnya lebih peka dan tanggap dengan segala persoalan sosial. Seniman harus benae-benar turun ke bawah, mengamati penderitaan rakyat dengan berbicara langsung dengan rakyat, membantunya mencangkul dan tidur beralas tikar bersama. Tidak sedikit kelompok atau organisasi seni yang dianggap cenderung kiri oleh orde baru disingkirkan begitu saja, walaupun notabene tak pernah bersinggungan dengan PKI dan komunisme.
Situasi sosial politik hari ini cukup berbeda. Kecenderungan seniman dalam berkaryapun berbeda. Banyak sekali wacana-wacana baru, metode, dan ideologi dalam kesenian. Mengenai bagaimana konsekuensi seni terhadap masyarakat, ruang fisik, budaya tanding, subkultur, dan sebagainya.
Pada dasarnya tentu semuanya hanya sebuah pilihan. Estetika tentu tak melulu bicara soal keindahan. Lebih dari itu, estetika juga berbicara mengenai konteks ruang, waktu dan suasana. Artinya satu karya seni akan “hidup” dan bermakna ketika menemukan satu ekosistem yang tepat, atau sebaliknya beradaptasi dan melakukan perubahan posiitf pada ekosistem yang telah ada.
Seperti dikatakan WS Rendra dalam salah satu puisinya yang berjudul sajak sebatang lisong,
“Apalah artinya Renda-Renda Kesenian
Bila terpisah dengan derita lingkungan
Apalah artinya berpikir
Bila terpisah dengan masalah kehidupan
Kepadamu aku bertanya!”

Yogyakarta 11 Januari 2009
Andika Ananda
153070083



Continue Reading...

Rabu, 02 Desember 2009

Apresiasi Warga Sleman Dalam Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi



SLEMAN (portal kiri) - Sejumlah 38 peserta pewakilan kelompok budaya meliputi bregada prajurit tradisional, kesenian tradisional, komunitas mahasiswa dan perguruan tinggi., Kelompok pariwisata dan batik, desa-desa wisata memeriahkan Kirab Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi Sleman Rabu (2/12). Dengan menempuh rute sepanjang tiga kilometer dari Lapangan Mlati hingga Lapangan Denggung Sleman.
"Kegiatan in merupakan wujud dari keberagaman serta keragaman masyarakat yang tinggal di Sleman yang menjadi kekuatan tersendiri bagi Kabupaten Sleman untuk meningkatkan dan memberdayakan kemandirian masyarakat dalam pembangunan. Apalagi kebanyakan masyarakat sudah mulai jauh dari nilai kebudayaannya sendiri dan lebih memilih kebudayaan yang berasal dari luar, seperti gotong royong yang mulai ditinggalkan dan digantikandengan pola hidup individualis," kata Wakil Bupai Sleman, Sri Purnomo saat ditemui di Lapangan Degung, Sleman, Rabu (2/12)

Lebih lanjut Sri Purnomo mengatakan karnaval pelangi budaya bumi merapi ini merupakan moment yang sangat strategis untuk semakin mengenalkan dan mempromosikan potensi wisata Sleman kepada masyarakat luas. kirab ini juga merupakan salah satu upaya untuk mengajak masyarakat dalam membangun Sleman baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, keamanan, seni budaya maupun spiritual yang mencerminkan semangat membangun Sleman menuju kesejahteraan.

Ditambahkan Ketua Panitia Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi Sleman, R. Joko Handojo menjelaskan kegiatan ini merupakan rangkain puncak Hari KORPRI yang menggambarkan keanekaragaman potensi budaya Sleman dan sekaligus wujud kegembiraan telah ditetapkannya Batik oleh UNESCO sebagai karya bangsa Indonesia.

"Penyelenggaraannya tahun ini Pelangi Budaya Bumi Merapi diikuti hingga ribuan peserta yang berasal dari seluruh stake holder pariwisata di Sleman. Karnaval akan dibagi menjadi sejumlah kelompok yaitu kelompok budaya, pariwisata dan batik, Badan Permusyawaratan Musea (Barahmus), perbankan, sekolah, dinas atau instansi, sepeda onthel serta, hingga Merapi Off-Road," kata Joko

Dengan acara pendukung berupa pentas seni pelangi budaya yang meliputi jathilan, kobrasiswa, macapat, dolanan anak, dadhung awuk, barongsai dan karawitan anak. Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan kegiatan budaya yang merupakan wujud nyata dari keanekaragaman potensi budaya dan seni di Kabupaten Sleman yang dieksplorasikan melalui kreativitas dan inovasi para peserta karnaval.

Diharapkan event ini dapat membangun kebersamaan warga masyarakat Sleman dalam bingkai budaya, menumbahkan kreatifias dalam mengapresiasi budaya masyarakat, memberikan hiburan segar dan mendidik bagi segenap lapisan masyarakat, wahana pelestarian dan penembangan serta pemanfaatan kebudayaan. Sekaligus dapat memupuk rasa memiliki terhadap budaya lokal dan budaya positif yang berkembang di Sleman.

Sebelumnya telah dilakukan acara seremonial berupa pencanangan penggunaan pakaian batik bagi instansi pemerintah dan sekolah-sekolah, serta sebagai himbauan kepada masyarakat untuk juga mengenakan batik.(G. Agung Bayu Kurniawan/153070021)
Continue Reading...

Minggu, 29 November 2009

festival kesenian yogyakarta, cara baru unjuk gigi.


-Upacara adat hanya dilakukan sebagai rutinitas padahal jika dikemas akan menjadi atraksi budaya yang bisa menjadi potensi pariwisata pasti akan lebih menarik lagi.Kali ini dalam Festifal Upacara Adat Propinsi DIY 2009 yang baru pertama kalinya diadakan di DIY ditampilkan ratusan peserta Upacara Adat dari 5 Kabupaten dan kota se-DIY di Alun-alun Utara yang kemudian melaksanakan kirab mengelilingi benteng keraton dan berakhir kembali di alun-alun kota yogyakarta.
"Festifal upacara adat ini sebagai cara untuk mengeluarkan atraksi budaya agar mampu mengundang wisatawan, menariknya festifal ini tidak sekedar pawai upacara adat saja tetapi juga sekaligus menampilkan keseluruhan prosesi ritual adatnya" ujar Kepala Dinas Kebudayaan Propinsi DIY, Drs. Joko Dwianto saat ditemui di Alun-alun Utara, Yogya, Minggu (29/11). Upacara adat yang ditampilkan dalam Festifal Upacara Adat Propinsi DIY 2009 merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk penguatan nilai-nilai kearifan local, pewarisan semangat, pelestarian pada generasi muda, mendukung ruang ekpresi budaya bagi kaum adapt, meningkatkan kualitas dan tampilan upacara adapt menjadi atraksi budaya rutin tahnuan serta menunjang kepariwisataan DIY.
Hal lain yang sangat menarik adalah bagaimana menyaksikan upacara adat yang langka, jarang kita dengar, apalagi disaksikan oleh generasi muda - namun tetap eksis di pelosok pedesaan - seperti Tuk Sibedug & Bekakak dari Sleman, Babad Dalan & Cingcing Goling dari Gunungkidul, Nawu Enceh & Maheso Suro dari Bantul, Wiwitan & Nawu Sendang dari KulonProgo serta Ruwatan & Merti Code dari Kota Yogyakarta akan ditampilkan dengan pelaku-pelaku dan propertinya aslinya
Dia mengatakan saat ini di DIY terdapat setidaknya 32 desa budaya yang bisa dikembangkan, masing-masing setidaknya mempunyai upacara adat dan atraksi budaya yang masing-masing mempunyai daya tarik tersendiri sebagai potensi pariwisata.
Lebih lanjut Joko mengatakan saat ini pemerintah Propinsi DIY mempunyai cita-cita agar masing-masing desa budaya mampu mengembangkan apa yang potensi yang mereka punyai.
Pemerintah akan memberikan stimulan serta dukungan infrastruktur dalam bentuk seperangkat gamelan dan tentunya sarana lain yang menunjang potensi budaya.Harapan kedepannya acara ini akan digelar setiap tahun atau menjadi event reguler dengan format yang lebih besar dan lebih baik.(G. Agung Bayu Kurniawan/153070021)
Continue Reading...

Senin, 23 November 2009

Perkembangan Komunitas Jazz Jogja


Bantul, Portalkiri
- Di tahun 2000 sebuah komunitas jazz lahir di sebuah restoran di Yogyakarta. Dimulai dari sekumpulan musisi jazz yang berusaha untuk mengenalkan jazz pada masyarakat, bahwa jazz bukan musik yang bisa dinikmati oleh menengah ke atas saja, melainkan bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Jazz sendiri juga awalnya adalah musik orang minoritas, yaitu orang kulit hitam yang tinggal di Amerika. Tetapi kemudian image itu diubah jika jazz hanya bisa dinikmati oleh orang-orang berduit yang datang ke restoran mahal menggunakan jas,” kata Fabion Haryo Ajie selaku anggota dari Komunitas Jazz Yogja.

Komunitas Jazz Yogya memulainya dengan membuat acara rutin mingguan yang tempatnya disediakan oleh DJ Fanny. “Di situ kami membuat acara jam session khusus jazz sebagai dasar terbentuknya komunitas jazz di Yogyakarta. Selain jam session kami juga mengadakan workshop kecil-kecilan sebagai tambahan ilmu bagi temen-temen yang ingin tahu banyak tentang jazz,” kata Bion, sapaan akrab Fabion.

Workshop ini akhirnya mampu mendatangkan musisi jazz yang sudah punya nama seperti Indra Lesmana, Benny Likumahua, dan lain sebagainya agar pemikiran jazz tidak hanya terpaku dalam pengertian jazz tetapi mencakup keseluruhan dari genre musik yang ada di jazz itu sendiri.

“Ternyata jazz bukan hanya sekedar fusion saja, tetapi banyak genre lain juga, misalnya blues dan bossanova. Hasil dari workshop dan jam session ini adalah kami bisa mengirim temen-temen di festival jazz, Jazz Goes To Campus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan berhasil menjadi juara pertama dalam festival tersebut. Semua dapet the best player,” tutur Bion.

Hal ini juga terulang pada festival serupa pada tahun-tahun berikutnya. “Akhirnya anak-anak Jakarta tidak lagi menganggap remeh anak-anak Yogya, dan kredibilitas Jogja menjadi patokan perkembangan jazz daerah lain,” lanjutnya.

Hal ini menjadikan musisi jazz Jakarta tertarik untuk bekerjasama dengan musisi Jogja, sehingga komunitas jazz Jogja mengalami kekosongan. Dalam kekosongan ini sempat muncul komunitas-komunitas baru. Kekosongan ini dibiarkan selama dua tahun karena kesibukan masing-masing dari anggota Komunitas Jazz Yogya. Kevakuman ini juga berimbas ke kota lain seperti Bandung.

Komunitas baru yang terbentuk ini ingin mengeksiskan kembali geliat musik jazz Jogja. Tari Pradeksa kemudian memfasilitasi para musisi jazz yang ingin kembali eksis di dalam bidangnya.

Pada awal 2007, komunitas ini kembali hadir dalam format jazz baru yang bertajuk Jazz on the Street yang awalnya digelar sebulan sekali di depan Grha Sabha Pramana (GSP), sampai akhirnya dibuat menjadi satu minggu sekali karena animo dari penikmat jazz.

“Hampir setahun lebih kami menyelanggarakan Jazz on the Street ini, sampai pada akhirnya acara ini pindah ke kafe Big Belly. Kami ingin membuat image bahwa setiap hari Senin adalah malam untuk jazz,” ungkap Bion.
Pindah dari kafe ke kafe itu sudah biasa, akhirnya mereka terakhir bermain di kafe De’Klik dan mulai bangkit lagi.

“Minggu pertama kafe masih sepi, tapi setelah minggu-minggu berikutnya penikmat jazz sudah mulai muncul. Dan di sana malah jadi tempat ngejam berbagai aliran musik. Ada reggae, indie, bahkan rock juga ada,” kata Bion.

Jogja memang punya sumber daya manusia yang berlimpah dalam hal kesenian, termasuk juga musik jazz. Itulah yang membuat Jogja tetap nomor satu di banyak festival yang diselenggarakan. Selain itu juga, musisi Jogja ketika bermain musik juga mengandalkan estetika dan juga cara menyampaikan tema.

“Sebab jazz itu sebagai media. Saya mengutip dari Pak Djaduk bahwa jazz itu hanya sebagai media untuk gerakan budaya melalui musik. Musik jazz adalah musik demokratis tetapi tetap tidak dari akarnya. Jazz tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas saja, tetapi semua orang juga bisa menikmati,” jelasnya.
Dalam acara Ngayogjazz Bantul 2009 yang diselenggarakan pada Sabtu (22/11) lalu di Pasar Seni Gabusan, tujuh grup dari komunitas ini telah melauncing satu album kompilasi. Untuk proyek tahun depan, mereka akan memperkenalkan musik jazz di kampus-kampus di Jogja.

“Mendengarkan musik jazz itu harus terbiasa dulu, seperti juga lagu-lagu yang ada belakangan ini. Sehingga kita bisa tahu bagaimana menikmati musik jazz,” pungkasnya.***

G. Agung Bayu Kurniawan/153070021
Continue Reading...

Minggu, 08 November 2009

Studiklub Teater Bandung di usia 50 tahun





Dalam rangka memperingati 50 tahun Studi Teaterklub Bandung (STB), diluncurkan kumpulan esai yang berjudul “Melakoni Teater”.

Rabu pekan lalu (26/10/2009) Digelar acara bedah buku “Melakoni Teater” dan pementasan monolog “Nyanyian Angsa” oleh Studi Teaterklub Bandung. Acara digelar di teater arena Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dengan pembicara DR.Yudi Aryani M, Hum. Tampak juga beberapa seniman dan komunitas teater yang hadir, seperti Wani Darmawan, Ibed Surgana Yuga, komunitas Teku, Lembaga Teater Perempuan, Saturday Acting Club, dll yang hadir pada peluncuran buku tersebut.

Buku “Melakoni Teater” merupakan kumpulan esai dari para pelaku, penulis dan kritikus teater Indonesia. Beberapa di antaranya Putu Wijaya, Putu Satria Kusuma, Beni Yohanes, Halim HD dan sejumlah nama lain yang tidak asing di jagad teater kontemporer Indonesia.

Sebagai kelompok teater tertua di Indonesia STB telah melakukan proses selama lima puluh tahun dengn lebih dari ratusan karya telah dipentaskan. STB sempat mengalami vakum sepeninggal Suyatna Anirun, pendiri STB. Namun beberapa muridnya seperti Wawan Sofwan, Muhamad Sunjaya, Ags. Arya Sanjaya akhirnya kembali turun gelanggang untuk melanjutkan perjuangan STB hingga hari ini.

Tak bisa dipungkiri betapa penting kehadiran STB dalam geliat teater Bandung dan teaeter Indonesia hari ini. Di Bandung sendiri, ketika dirunut secara silsilah hulu kreatif perteaterannya bermula dari STB dan Suyatna Anirun. Coba kita lihat Komunitas Payung Hitam, Laskar Panggung, Teater Republik, Creamer Box, Actor Unlimited dan sejumlah kelompok teater lainnya, dulunya adalah orang-orang STB yang kini mendirikan kelompok teaternya sendiri.

 “Dalam buku ini akan kita temukan siapakah sebenarnya STB dan bagaimankah perannya dalam konstelasi teater modern Indonesia” terang DR.Yudi Aryani M.Hum. Yudi Aryani menjadi salah satu saksi bagaimana proses kreatif yang pernah dilakukan STB ketika ia terlibat aktif dalam salah satu proses STB. Menurutnya STB memang tak bisa dipisahkan dengan sosok Suyatna Anirun. Tampak sekali perbedaan capaian estetis dan pola kerja STB saat ini bila dibandingkan dengan masa Suyatna. STB identik dengan realisme “gaya Suyatna” yang cenderung mengarah ke realisme konvensional gaya Eropa, dengan pola akting Stanislavsky. Salah satu garapan Suyatna yang paling mengagumkan adalah King Lear. Pada saat itu Suyatna menyutradarai sekaligus bermain sebagai Lear, Si Raja Tua. Sayangnya suasana diskusi yang terkesan terlalu formal dan normatif membuat audiens tidak responsif’ ungkap Nanang Arizona, salah satu peserta pada celah diskusi.

Usai acara diskusi dipentaskan sebuah monolog dengan lakon saduran “Nyanyian Angsa” karya pengarang Rusia Anton Chekov. Dalam lakon tersebut diceritakan tentang aktor tua yang dalam keadaan mabuk mendatangai panggung tempat biasanya ia berlatih dan pentas. Lelaki itu bercerita ketika masih muda dengan penuh semangat dan gairah ia mainkan tokoh-tokoh penting dan naskah-naskah besar.

Bila direnungkan lebih jauh, lakon monolog yang dimainkan bisa menjadi satu sindiran personifikatif. Pada kenyataannya, hari ini berteater menjadi pilihan dengan konsekuensi yang begitu sulit dan berat. Berbeda dengan dunia senirupa, menulis, fotografi dan tari. Para pelakunya bisa hidup dari sana. Sebaliknya tidak mungkin pelaku teater hanya menggantungkan hidupnya pada teater semata.

Bengkel Teater Rendra dan Teater Mandiri bisa bertahan sampai hari ini karena subsidi silang dari honor menulis Rendra dan Putu Wijaya. Bagaimanakah nasib Rendra ketika tua?Dilupakan. Coba kita lihat juga teater koma yang begitu besar dengan manajemen produksi yang sangat professional sekalipun belum mampu menghidupi para aktornya ketika produksi tidak dilakukan.

Seperti nasib si aktor tua dalam naskah saduran ‘Nyanyian Angsa” yang dimainkan STB pekan lalu. “Sungguh baru kali ini aku melihat panggung dalam keaadaan kosong. Tak nampak apapun selain lubang pembisik, sementara aku tak bisa melihat bangku penonton , kecuali kursi kosong yang terdepan”.Demikian salah satu petikan dialog dalam naskah tersebut.

Selamat ulang tahun untuk Studiklub Teater Bandung. Lima  puluh tahun, usia emas untuk sebuah kelompok teater.

ANDIKA ANANDA/153070083

Continue Reading...

Pentas Ludruk “Geger Tegal Banteng”

“Tegal Banteng jibrat getih udan tangis” demikian kalimat terakhir Delan sebelum mati.
Selasa (3/10/09) digelar sebuah pentas ludruk oleh kelompok ludruk sinar jaya (SJ) pimpinan Cak Ganes. Setelah hampir lima tahun vakum, pada pentas kali ini SJ membawakan lakon yang berjudul Geger Tegal Banteng. Sebuah lakon yang diangkat dari kisah nyata dengan latar belakang masa penjajahan Belanda.

Dalam lakon tersebut diceritakan tentang Pak Lurah yang membeli sejumlah tanah warga dengan harga murah dengan alasan untuk dibangun pondok pesantren. Pada kenyataannya ternyata Pak Lurah adalah Suruhan dari Gopermen Belanda. Yang diberi tugas untuk membangun pabrik tepung. Delan, Jawara dari Tegal Banteng yang mendengar rencana busuk pak Lurah tidak terima. Semedi yang seharusnya ditempuh empat puluh hari di watu sewu untuk memperoleh ilmu kedigdayaan ditinggalkan. Akhirnya terjadilan pertumpahan darah antara kelompok pro lurah dan kelompok kontra lurah yang dipimpin oleh Delan yang tidak terima dengan kesewenang-wenangan Lurah. Semuanya mati tanpa terkecuali Delan dan Pak Lurah.

Pada adegan terakhir muncullah Buyut Simpen dan Mbah Kasan Tajab, sepasang suami istri yang dituakan di Tegal Banteng. Buyut Simpen menangis tersedu melihat Delan tewas bersimbah darah. Mbah Kasan Tajab berusaha menenangkan Buyut Simpen sambil mengatakan “ Iki wis dadi opo kang ginaris dening Gusti Allah, Tegal Banteng jibrat getih udan tangis” (ini sudah digariskan Tuhan, Tegal banteng penuh darah dan hujan air mata).

Pentas malam itu berlangsung kurang lebih 3 jam tersebut cukup menghibur penonton dan penuh dengan pesan. Tentang bagaimana kebenaran tidak selalu menang, demikian pula dengan kejahatan. Pada pementasan malam itu Delan sebagai symbol kebaikan dan Pak Lurah, sebagai simbol kejahatan sama-sama mati.

Menurut Suharyoso M.Sn, salah satu dosen ISI Yogyakarta, walaupun dimainkan oleh anak-anak muda yang awam dengan dunia ludruk, namun tidak mengecewakan, bahkan sangat menghibur. Demikian pula disampaikan oleh Tohir, salah satu tokoh ludruk Surabaya yang kebetulan menyempatkan datang pada malam itu. “anak jaman sekarang kebanyakan malu, jangankan main ludruk, nonton saja sudah nggak mau. Saya bangga kepada kawan-kawan muda yang mau nguri-uri kebudayaan kita”.

Menurut Cak Ganes, lakon Geger Tegal Banteng akan dipentaskan kembali di Gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 22 November 2009 nanti.


ANDIKA ANANDA/153070083
Continue Reading...

Minggu, 25 Oktober 2009

Setelah 2 Bulan istirahat, Jagongan Wagen Kembali Hadir





Bantul. Portalkiri – Setelah 2 bulan tak digelar karena Idul Fitri, Jagongan Wagen kembali hadir menyemarakkan seni pertunjukkan seni di Yogyakarta. Acara Wagen kali ini mengambil tema Dance Energy yang digelar di Padepokan Bagong Kusudiardja, Kembaran, Kasihan Bantul Sabtu (24/10).

Acara seni pertunjukkan tersebut menampilkan 2 sesu pertunjukkan. Sesi yang pertama diisi oleh teatrikal yang dikoreograferi oleh Satriyo Ayodya. Dalam dialog sebelum pementasan, Satriyo Ayodya menerangkan bahwa pada kesempatan kali ini mereka mengakat kesenian-kesenian daerah yang sering dilupakan oleh masyarakat. Serta adanya pengkotak-kotakan budaya atau seni yang masih menjadi kegelisahan bagi Satriyo Ayodya dan kawan-kawan.

Sesi kedua yaitu dari senior Padepokan Bagong Kusudiardjo, Sutopo Tedjo Baskoro. Koreografernya menampilkan adopsi dari sebuah tari tradisional Jawa yang diangkat menjadi seni yang lebih kontemporer. Yang menarik dari hasil koreografer Sutopo Tedjo Baskoro ini adalah para penarinya tidak ada yang berdiri, cuma sebatas duduk, jongkok, dan merebah. Mereka bereksplorasi tubuh dengan kondisi-kondisi seperti itu.
Iskandar (21) salah seorang penonton setia Jagonan Wagen menuturkan, “Jagongan wagen kali ini benar-benar menarik, sesuai tema Dance Energy kali ini”. “Walau 2 bulan kemarin Jagongan Wagen tidak digelar, namun acara kali ini mampu mengobati rasa kangen saya”, tambah Iskandar.

Selain tidak dipungut biaya, pihak panitia juga menyediakan minuman gratis bagi para pengunjung acara tersebut. Jagongan Wagen telah menjadi agenda bulanan di Yayasan Padepokan Bagong Kusudiardja yang mencoba melestarikan budaya serta menampilkan seni kontemporer pada masyarakat.

Sigid kurniawan/ 153070139
Continue Reading...

Komunitas Teater Sego Gurih Kirim Do’a

Bantul. Portalkiri –Sabtu pekan lalu digelar sebuah pementasan teater berjudul “KUP” oleh Teater Sego Gurih di desa Tembi.

Seperti biasanya, pada pementasan kali ini KUP masih dimainkan dengan menggunakan gaya dialog berbahasa Jawa. Pada pentas kali ini Sego Gurih tampil dalam rangka memperingati 100 hari meninggalnya orang tua salah satu kawan Sego Gurih.“Ya, kan sekali-sekali kirim do’a itu pakai pentas teater, biar lebih kontemporer hahaha”, kata Ibnu Gundul, sutradara Teater Sego Gurih”.

Kali ini, penulis naskah Wahyu Daksiraga mencoba mengangkat persoalan masyarakat pinggiran. Di mana diceritakan tentang konflik di dalam sebuah kampung karena adu domba salah satu warga. Uniknya adu domba tersebut dipicu oleh masalah kotoran manusia yang dibuang sembarangan di depan sebuah WC umum. Semua orang saling menuduh, mulai dari preman kampung, tetua kampung hingga anak-anak terlibat konflik tersebut.Sampai akhir pertunjukan konflik masih terus terjadi. Bahkan Wahid si preman kampung masih sibuk mencari si pembuang kotoran manusia.

Dalam “KUP” tersebut penulis naskah hendak berpesan tentang pentingnya kebersamaan. Terkadang hanya karena hal yang sangat sepele orang bisa berkorban apa saja, bahkan nyawa bisa melayang.

Pentas yang disajikan secara komedi ini sangat menghibur penonton. Derai tawa seakan tak berhenti selama pertunjukan berlangsung. Permainan terasa ringan dan cair, bahkan interaksi yang terjalin antara penonton dan permainan sangat terjalin dengan baik. Sayangnya pengaturan komposisi dan pemblokingan tidak digarap maksimal, sehingga banyak bagian pementasan yang tidak bisa dinikmati maksimal dari sudut pandang tertentu.

Tak bisa dipungkiri kehadiran Teater Sego Gurih cukup membawa angina segar bagi iklim perteateran di Yogyakarta. Bila kita tengok mainstream teater sekarang yang berkutat pada wilayah tubuh yang berangkat dari perbendaharaan teater tubuh Eropa.. Sebaliknya sego gurih mereproduksi kembali spirit teater tradisi Jawa pada wilayah kontemporer.


Andika Ananda/153070083
Continue Reading...

Minggu, 11 Oktober 2009

Festival Asia Three

Bantul- Portalkiri. Jum’at (7/10)pekan lalu Rumah Budaya Tembi menyelenggarakan pentas tari dari berbagai Negara, seperti Jepang, Prancis, Korea, India dll. Acara yang bertajuk Jogja Asia Tri 2009 digelar sejak tanggal tujuh hingga sepuluh Oktober 2009.

Pagelaran ini dilaksanakan di dua tempat, yakni di Rumah Budaya Tembi Bantul dan Museum Ulen Sentalu-Kaliurang. Jogja Asia Tri merupakan event pertunjukan tari tahunan, sekaligus ajang workshop dan kolaborasi antar seniman dari segala penjuru dunia.



(Andika Ananda/153070083)
Continue Reading...
 

Portal Kiri Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template